Hernia adalah penonjolan isi rongga perut akibat melemahnya otot dinding perut.Dinding perut yang tidak kuat menahan beban membuat usus melorot dan mendesak ke bawah,menimbulkan tonjolan di perut bagian bawah maupun di lipat paha.

   Tingginya angka penderita di dunia mendorong para pakar untuk menemukan tehnik tehnik penanggulangan yang lebih efektif.Salah satu hasilnya adalah operasi hernia dengan tehnik Lichtenstein.Tehnik ini menjadi baku emas (golden standard) penanganan hernia.Apa istimewanya?.
   Spesialis bedah RS Gading Pluit Jakarta dr.Barlian Sutedja SpB menjelaskan keistimewaan tehnik lichtenstein terletak pada bahan dan proses penambalan lokasi hernia yang berfungsi memperkuat jaringan.
   “Metode Lichtenstein menggunakan penambal berupa  jala plastik dari bahan polipropilena”,ujar Berlian dalam acara live surgery bertajuk Learn from  the Expert,di RS Gading pluit,Jakarta(30/10/2010).Acara yang di selenggarakan Perhimpunan Hernia Indonesia dan Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia itu menghadirkan Prof.Parviz K Amid dari Lichtenstein Hernia Institut AS,yang merupakan pionir tehnik Lichtenstein.
   Prosedurnya ,tambalan jala polipropilena itu di letakan di bawah kulit di lokasi hernia.Dalam beberapa hari,tambalan itu akan menyatu dengan jaringan sekitar dan tidak menyebabkan rasa sakit.Bahan polipropilena jarang di tolak oleh tubuh.
   Berlian menerangkan ,metode Lichtenstein yang telah di praktikan di berbagai negara selama 18 tahun terakhir memiliki sejumlah keuntungan.Antara lain, tehnik ini tergolong sebagai operasi tanpa tegangan(tension-free).Artinya ,penambalan tidak menimbulkan regangan kulit seperti pada tehnik jahitan.Dengan demikian ,nyeri pasca opersi dapat diminimalisasi.Selain itu,prosedurnya yang hanya memerlukan anestesi lokal membuat biaya operasi lebih terjangkau.Kisaranya,Rp 200ribu hingga Rp 800ribu,tergantung pada kondisi hernia.
   “Tehnik ini di nilai lebih aman.Dan yang terpenting ,bahan tambalan yang digunakan cukup kuat untuk menahan kembali kambuhnya kembali hernia.Riset menunjukan ,resiko kekambuhan pada tehnik ini hanya 0,1-1%”,terang Barlian.
   Proses pemulihan pasca operasi, lanjut Barlian ,membutuhkan waktu beberapa pekan.Pada 2-3 minggu awal pasca operasi,pasien tidak diperkenankan mengangkat beban berat.Selanjutnya pasien bisa beraktivitas biasa.***
Sumber:MEDIA INDONESIA(3/11/2010)