Karena gejalanya yang sama mirip,memang agak sulit membedakan apakah si kecil terkena infeksi virus atau bakteri.Bahkan seorang dokter anakpun sering kali melakukan kesalahan diagnosis sebelum meresepkan antibiotik!..

   Dalam sebuah survei terhadap 700 dokter anak dan calon dokter anak,terungkap bahwa lebih dari separuh responden melakukan kesalahan diagnosis sedikitnya satu hingga dua kali dalam sebulan.Kesalahan diagnosis yang paling sering dibuat adalah membedakan antara infeksi yang disebabkan virus atau bakteri.
   Hampir separuh responden menyebutkan kesalahan diagnosis tersebut bisa membahayakan,paling tidak satu-dua kasus dalam setahun.Demikian menurut survei yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics edisi bulan juli 2010.
   Namun ,tidak dijelaskan jenis bahaya yang dimaksud kerena mereka tidak punya skala untuk menilai tingkat bahaya penyakit.Namun sebuah studi menunjukan, sebanyak 32% dokter anak yang melakukan malapraktik mengklaim hal itu berawal dari kesalahan diagnosis.
   “Memang diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menunjukan dengan tepat berapa kali kesalahan itu sering terjadi,”kata peneliti senior dr.Geeta Singhal,asisten profesor pediatrik dari Baylor College of Medicine,AS.
   Survei tersebut dilakukan terhadap dokter anak di tiga lokasi di Cincinnati dan Houston,AS.Diagnosis error termasuk pada diagnosis yang salah,dituda,atau keliru.
   Para dokter anak tersebut sering kali gagal mengumpulkan informasi tentang riwayat medis atau hasil tes.Penyebab lain terjadinya kesalahan adalah orang tua pasien sering datang terlambat dari waktu yang seharusnya,gagal melakukan tindak lanjut hasil tes laboratorium,dan juga faktor orang tua pasien yang tidak menuruti rekomendasi dari dokter.
   Untuk mengurangi kesalahan,para dokter yang disurvei mengaku terus memantau perkembangan pasien,bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain,dan meluangkan waktu lebih banyak saat konsultasi dengan orang tua pasien.”Para orang tua juga disarankan untuk tidak memaksa bila dokter memutuskan bahwa pasien tidak membutuhkannya”,pungkas dr.Geeta Singhal.***
Sumber:Healthday News
Tautan judul yang mungkin perlu anda ketahui!: