Waspadai ketika bobot tubuh buah hati Anda melebihi rata-rata dan tidak sesuai dengan perkembangan usianya. Bisa jadi, anak tersebut mengidap obesitas.

Dulu, tampilan anak dengan bobot berlebih justru dianggap lucu. Namun, seiring dengan dinamika kehidupan di mana berbagai ancaman kesehatan mengintai, bentuk tubuh yang tambun pada usia anak pun perlu diwaspadai. Tak ubahnya orang dewasa, anak-anak pun memiliki risiko terjangkit penyakit diabetes. Bagi sebagian masyarakat mungkin masih menganggap kalau penyakit ini merupakan penyakit orang dewasa. Padahal, ancaman ini pun mengintai anak-anak berusia belia sekalipun.

Secara umum, faktor penyebab obesitas memang beragam. Menurut dr Aman Bhakti Pulungan SpA (K), hal tersebut bisa dikarenakan faktor keturunan, status ekonomi (jika di Barat, orang dengan level sosial ekonomi bawah cenderung gemuk, sementara di Indonesia level menengah ke ataslah yang memiliki kegemukan), kebiasaan menyusu botol, berat badan bayi yang lebih cepat meningkat, gaya hidup, tidak sarapan, mengonsumsi fast food, kurang tidur dan pengaruh etnis tertentu.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas tahun 2007), pembunuh utama orang dewasa, yakni stroke dan penyakit diabetes mellitus tipe 2. Sementara itu, dari data Riskesdas 2010, jumlah obesitas pada balita di Indonesia mencapai 19,6 persen. Secara jangka panjang, obesitas tentu akan berdampak buruk terhadap kesehatan.

“Saat dikonsumsi, makanan atau minuman manis akan diserap dengan cepat ke dalam pembuluh darah, sehingga meningkatkan kadar hormon insulin. Selanjutnya, hormon insulin ini akan bekerja menarik gula dan lemak dari darah untuk disimpan di jaringan sebagai persediaan di masa mendatang. Proses penyimpanan ini jika tidak seimbang dengan pengeluaran energi akan menyebabkan kenaikan berat badan,” ujar dr Aman.

Untuk itulah, obesitas pun perlu diwaspadai dan dicegah sedini mungkin. Pasalnya, obesitas dapat meningkatkan risiko bagi penyakit kronis, seperti penyakit kardiovaskular (jantung dan stroke), diabetes mellitus tipe 2, obstructive sleep anea (mengorok), gangguan ortopedik, serta pseudomotor serebri, yaitu peningkatan ringan tekanan intracranial pada obesitas, sindroma metabolic yang berkaitan dengan obesitas yang ditandai dengan resistensi insulin, dislipidemia dan hipertensi, gangguan musculoskeletal, khususnya osteoarthritis dan Policystic Ovarian Syndrome (PCOS).

Nah, sebelum hal tersebut menghampiri buah hati, orangtua pun perlu lebih “aware” dalam menghitung asupan gula tambahan pada anak.

“Bacalah label kandungan gula dalam kemasan secara cerdas termasuk di dalam produk susu anak. Cermati pula jumlah total karbohidrat dan total gula tambahan,” ujar Marudut Bsc MPS selaku ahli gizi.

Marudut memberikan gambaran sederhana untuk mengenali jumlah asupan gula yang dapat dikonsumsi. “Tiap gram dari gula mengandung 4 kalori. Anda dapat menyesuaikan dengan kebutuhan anak sesuai perkembangan usia mereka,” katanya.

Jika bingung, Anda dapat mengikuti rekomendasi seperti yang diutarakan WHO bahwa asupan gula tidak melebihi 10 persen dari total energi yang dikonsumsi untuk menghindari kelebihan energi pada tubuh anak. Berdasarkan AKG tahun 2001, anak usia 1-3 tahun tidak disarankan mengonsumsi lebih dari 25 gram gula tambahan per hari (setara 5 sdt) dan usia 4-6 tahun tidak melebihi 38 gram gula tambahan per hari (setara 8 sdt). (okezone)