Penyakit autoimun terdiri dari 2, yaitu penyakit autoimun sistemik dan penyakit autoimun lokal. Penyakit autoimun sistemik mempengaruhi banyak bagian tubuh sedangkan gangguan autoimun lokal mempengaruhi organ tertentu saja. Penyebabnya tidak diketahui dengan pasti dan belum ada pengobatan yang lengkap untuk sebagian besar

kondisi ini. Penyakit autoimun tidak hanya menyerang kelompok usia tertentu, tetapi semua kelompok usia. Bagaimana dengan kelompok usia muda, seperti anak-anak? Berikut dibawah ini beberapa gangguan autoimun yang sering menyerang anak-anak:

Juvenile Rheumatoid Arthritis: Juvenile rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun yang menyerang anak-anak pada kelompok usia enam bulan sampai enam belas tahun. Kondisi ini ditandai dengan gejala, seperti nyeri sendi, pembengkakan, kemerahan dan kekakuan sendi. Kondisi ini diklasifikasikan menjadi 3 yaitu Juvenile Rheumatoid Arthritis sistemik, pauciarticular dan polyarticular. Rheumatoid Juvenile arthritis pauciarticular hanya menyerang tidak lebih dari empat sendi. Rheumatoid Juvenile arthritis polyarticular dapat menyerang lebih dari lima sendi. Sedangkan Juvenile rheumatoid arthritis sistemik mempengaruhi sistem tubuh dan dapat menyebabkan peradangan sendi, jaringan ikat dan organ.
Demam rematik: Demam rematik adalah penyakit dimana jaringan ikat tubuh meradang. Hal ini diyakini karena keterlambatan dalam diagnosis dan pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus yang memicu demam rematik pada anak-anak. Anak mungkin mengalami gejala-gejala demam rematik sekitar 4-5 minggu setelah infeksi bakteri. Dalam kondisi demam, pembengkakan dan nyeri sendi adalah tanda-tanda umum dari kondisi ini. Komplikasi serius dari penyakit ini adalah peradangan lapisan aritmia, jantung dan penyakit jantung rematik.
Penyakit Celiac: Penyakit ini adalah penyakit autoimun yang menyerang anak-anak. Penyakit ini disebabkan karena konsumsi gluten yang memicu respon autoimun pada anak-anak. Penyakit celiac ditandai dengan adanya peradangan pada lapisan usus kecil. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan usus untuk menyerap nutrisi, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi pertumbuhan anak dan mengakibatkan kekurangan gizi.  Dalam kasus yang parah, pertumbuhan anak akan terhambat, dan tulang bisa menjadi lemah.
Lupus: Lupus adalah penyakit autoimun yang bukan hanya menyerang anak-anak saja, tetapi pada bayi yang baru lahir. Pada bayi baru lahir, kondisi ini secara medis disebut sebagai lupus neonatal. Lupus eritematosus sistematik adalah bentuk paling umum dari kondisi ini yang dapat menyerang berbagai organ-organ vital, sendi dan menyebabkan peradangan di berbagai bagian tubuh. Penyebab pasti dari penyakit ini tidak diketahui, namun diyakini bahwa faktor genetik atau faktor lingkungan mempunyai peran. Penggunaan obat tertentu juga dapat menyebabkan produksi autoantibodi.
Penyakit tiroid autoimun: penyakit Graves dan tiroiditis Hashimoto, keduanya merupakan penyakit autoimun lokal, di mana kelenjar tiroid menjadi target autoantibodi, hal ini mempengaruhi sekresi hormon tiroid. Hormon tiroid memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan, penyakit tiroid autoimun dapat berakibat serius pada kesehatan anak. Dalam kasus anak-anak penderita tiroiditis Hashimoto, autoantibodi yang menyerang sel-sel tiroid menimbulkan hipotiroidisme. Penyakit Graves ditandai oleh pembesaran kelenjar tiroid dan sekresi hormon tiroid yang berlebihan.
Itu tadi sedikit informasi mengenai penyakit autoimun yang umumnya terjadi pada anak-anak. Gejala-gejala autoimun yang terjadi pada seseorang berbeda-beda tergantung bagian tubuh mana yang diserang.