Radang amandel kerap kali muncul menyerang anak-anak. Operasi menjadi cara terakhir untuk mengatasinya. Namun, kini ada cara baru operasi amandel, yaitu dengan operasi radio frekuensi.

Amandel atau tonsilitis merupakan suatu bagian dari kelenjar getah bening yang letaknya di sisi kanan-kiri pangkal tenggorokan.

“Walaupun bisa diderita oleh siapa saja, amandel sebagian besar banyak dialami anak usia lima tahun sampai 15 tahun,” tutur dokter spesialis telinga hidung tenggorokan (THT) dari Rumah Sakit Puri Indah, Jakarta, dr Agus Subagio SpTHT.

Timbulnya penyakit ini memang cukup mengganggu penderita, seperti pada anak, yakni mengganggu tingkah laku, mendengkur saat tidur, sampai gagal jantung. Selain itu, gejala penyakit ini berupa tenggorokan terasa kering, rasa nyeri saat menelan, demam terkadang diikuti flu, pilek, sakit kepala, bau mulut, mual, dan pembesaran kelenjar getah bening di sekitar leher.

“Penanganan radang tonsil sangat beragam. Mulai terapi obat hingga operasi mengangkat tonsilatau amandel sebagai solusi akhir,” sebutnya dalam acara bertema “Radio Frekuensi untuk Tonsilektomi, Penanganan Modern Penyakit Amandel”yang diadakan oleh RS Puri Indah, Jakarta, beberapa waktu lalu.

dr Agus menyebutkan, metode penanggulangan yang terakhir untuk atasi radang tonsil, yaitu melalui operasi pengangkatan amandel. Operasi menjadi salah satu jalan untuk kasus dengan tonsilyang terinfeksi dan ukurannya kian membesar sehingga mengganggu jalan pernafasan dan jalan makan. Apabila tonsil menjadi sarang kuman, maka infeksi kerap berulang. Operasi amandel adalah operasi yang paling sering dilakukan dokter spesialis THT.

Di Amerika Serikat pada 1985 dilaporkan rata-rata 350-400 ribu melakukan operasi amandel. Di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo, selama 1990-1994 telah dilakukan 2.991 operasi amandel.

“Saat ini operasi ditunjang oleh teknologi dan perangkat mutakhir yang mengurangi dampak risiko dan sangat meringankan bagi pasien,” katanya.

Sejak satu dekade terakhir, diperkenalkan cara baru dengan menggunakan teknologi mutakhir dalam operasi pengangkatan tonsil, yaitu dengan menggunakan teknik radio frekuensi. Agus mengatakan, radio frekuensi merupakan perangkat yang menggunakan energi temperatur rendah (40-70 derajat Celsius), berbeda dengan teknik elektrokauter yang menggunakan energi dengan temperatur mencapai 400 derajat Celsius.

Radio frekuensi menggunakan gelombang radio pada frekuensi 1,5-4,5 MHz. Gelombang radio yang dihasilkan dari unit generator akan dialirkan ke elektroda yang bersentuhan dengan organ yang akan dioperasi. Energi radio akan memecah ikatan kimia di jaringan, dan pada akhirnya mengakibatkan pemotongan dan pembekuan jaringan. Karena proses ini terjadi pada suhu rendah, jaringan sekitar yang rusak akan minimal.

“Para penderita amandel kategori kronis dapat menjalani operasi menggunakan radio frekuensi yang memberikan tingkat kenyamanan yang jauh di atas prosedur bedah konvensional, bahkan dengan proses pemulihan yang lebih cepat,” katanya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di beberapa negara, disimpulkan bahwa penggunaan radio frekuensi dalam tonsilektomi (pengangkatan tonsil) memiliki beberapa keuntungan, di antaranya durasi operasi lebih singkat, pendarahan lebih sedikit, dan nyeri pascaoperasi yang lebih ringan karena tidak terdapat luka operasi yang terbuka.

Teknologi menggunakan radio frekuensi tidak semata dipergunakan untuk tonsilektomi. Radio frekuensi juga dapat digunakan untuk operasi guna mengatasi permasalahan lain seputar telinga hidung tenggorokan, di antaranya mendengkur dan konkahidung yang membesar (hipertrofi) yang berakibat tersumbatnya hidung.

CEO RS Pondok Indah Group Dr Yanwar Hadiyanto mengatakan, alat radio frekuensi ini telah menjadi salah satu perangkat yang digunakan oleh dokter ahli THT di klinik THT RS Puri Indah, Jakarta, yang didukung dokter spesialis untuk penanganan beragam penyakit dan gangguan THT. (okezone)