Seks terapis Paula Hall, dalam sebuah artikelnya di bbc.co.uk menekankan pentingnya kualitas hubungan suami-istri ketimbang kuantitas atau berapa kali bersetubuh. Untuk mencapai kualitas hubungan seksual yang baik, Paula menganjurkan seks di pagi hari. “Ketika Anda mencintai seseorang, seluruh hidup akan Anda berikan pada pasangan Anda, termasuk tubuh Anda. Jika Anda melakukan hubungan intim pada malam menjelang tidur, energi sudah banyak terkuras, sehingga tidak seprima di pagi hari,” ungkap Paula.

Frekuensi tidak penting. Masih kata Paula, “Seminggu sekali berhubungan seksual, jika berkualitas, sudah cukup. Meskipun Anda sering melakukan hubungan intim, tetapi jika pasangan Anda tidak terpuaskan, tentu secara keseluruhan malah bikin bete.”

Buat pasangan yang sibuk bekerja sepanjang hari, juga pasangan yang sudah punya anak, dengan membuat jadwal satu hari saja dalam seminggu untuk seks niscaya akan mendapat sebuah kejutan. Masak, ngeseks dijadwal? Memang dipercaya seks itu spontanitas. Namun, jika hanya menunggu kapan spontanitas itu datang, ia tidak akan datang. Kalau sudah dijadwal atau direncanakan, justru akan muncul spontanitas dan kejutan.

Ada saatnya memberi dan menerima. Mitos menyatakan, kala bercinta kita dan pasangan harus bisa memberi dan menerima kenikmatan secara menyeluruh dan bersamaan. Faktanya sulit terlaksana. “Nikmatilah saat menerima rangsangan dari pasangan Anda. Sebaliknya, berilah rangsangan ketika pasangan Anda menikmatinya,” jelas Paula.

Tidak kalah pentingnya adalah komunikasi dalam bercinta. Beberapa orang percaya seks itu perkara insting. Jika pasangan mengerang nikmat, berarti ia terpuaskan. Padahal komunikasi demikian kerap salah persepsi. Kenapa tidak bicara langsung pada pasangan. Enak yang mana? Lebih keras, lebih cepat, atau pelan-pelan? Bagian mana yang paling suka disentuh dan dirangsang? (intisari)