Penyerapan zat besi pada penderita anemia berlangsung tidak sempurna yang salah satu penyebabnya adalah radang atau inflamasi. Menurut ahli gizi, sumber makanan yang komplet untuk memenuhi kebutuhan zat besi sekaligus mengatasi radang penderita anemia adalah telur ayam. 

Ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dr Saptawati Bardosono, MSc mengatakan kandungan zat besi telur memang tidak sebanyak daging merah. Namun pada kondisi terjadinya radang baik yang kelihatan maupun tersembunyi (subklinis), telur menjadi pilihan yang bagus karena mengandung Vitamin A yang bisa meredakan radangnya. 

“Vitamin A bisa kita dapatkan dalam kuning telur. Kalau zaman dulu adanya cuma telur ayam kampung, itu lebih bagus karena kuning telurnya lebih besar,” ungkap Dr Tati, demikian ia biasa dipanggil, saat ditemui detikHealth di FKUI, Rabu (6/7/2011). 

Dilihat dari kandungannya tersebut, Dr Tati mengatakan telur ayam paling bagus bagi penderita anemia defisiensi besi yang mengalami radang. Namun ia menganjurkan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi telur tapi cukup 1 butir/hari, karena kuning telur juga mengandung kolesterol yang tidak baik untuk dikonsumsi terlalu banyak. 

Selain itu, telur yang dikonsumsi sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Dr Tati menjamin pemanasan tidak akan merusak kandungan vitamin A maupun zat besi, malah akan membunuh bakteri salmonella penyebab diare yang kemungkinan masih ada di dalamnya. 

Susahnya mendapat zat besi dari makanan 

Meski kandungan gizi dalam telur lebih komplet, Dr Tati menegaskan bahwa daging merah tetap merupakan sumber zat besi paling bagus. Sedangkan kandungan zat besi dalam sumber makanan hewani seperti daging ayam, hati sapi dan telur meski banyak tapi masih lebih rendah dari daging merah. 

Zat besi yang diperoleh dari sumber hewani juga lebih mudah diserap oleh tubuh ketimbang dari sayuran hijau dan sumber nabati lainnya seperti kacang-kacangan. Jenis zat besi dari hewani ini menurut Dr tati dinamakan zat besi Heme. 

Zat besi Heme merupakan zat besi yang mudah diserap oleh tubuh dan banyak ditemukan pada sumber makanan hewani. Zat besi yang ditemukan pada kacang-kacangan, bayam dan sayuran lain merupakan zat besi Non-Heme, yang lebih sulit diserap oleh tubuh karena harus melewati proses yang rumit. 

Khusus pada bayam, Dr Tati mengungkap bahwa sebenarnya kandungan zat besinya cukup tinggi. Namun di sisi lain, bayam mengandung asam fitat yang justru menghambat penyerapan zat besi, sehingga berapapun bayam yang dikonsumsi kebutuhan zat besi kadang-kadang tetap sulit dipenuhi. 

Faktor lain yang sering menghambat penyerapan zat besi dari makanan adalah kalsium. Karena itu jika ingin penyerapan zat besinya maksimal, Dr Tati menganjurkan agar daging merah, sayur maupun telur tidak dikonsumsi bersamaan dengan susu atau suplemen kalsium. 

“Kalsium dapat menghambat penyerapan zat besi. Yang justru meningkatkan penyerapannya adalah vitamin C sehingga saat sedang mengonsumsi suplemen zat besi, minum jus jeruk lebih dianjurkan daripada minum susu,” tambah Dr Tati. 

Meski tidak sepraktis minum suplemen, Dr Tati lebih menyarankan agar kebutuhan zat besi dipenuhi dari sumber makanan sehari-hari. Suplemen hanya dibutuhkan dalam kondisi tertentu, misalnya karena sakit sehingga secara fisik tubuh memang tidak mampu menyerap zat besi dengan optimal.

Sumber:Detik.com