Philadelphia, Balita umumnya membutuhkan berbagai macam makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Tapi tidak bagi Landon Schultz (2 tahun), balita ini hanya bisa mengonsumsi 5 jenis makanan saja karena ia memiliki penyakit langka.

Gangguan pada Landon sudah terlihat saat ia berusia 2 minggu. Ia mengalami eksim yang mengerikan, sering teriak menangis saat siang dan malam serta muntah yang membuat seolah-olah ia alergi dengan ASI.

Saat itu dokter menyarankan agar Landon diberikan susu kedelai atau susu formula, tapi keadaan justru semakin memburuk. Ia mengalami diare hingga 10 kali dalam sehari yang disertai dengan darah serta lendir dan perdarahan akibat eksim yang memburuk di bawah rambut kepalanya.

Ketika sang ibu memberinya gandum maka Landon justru menjadi muntah-muntah hingga badannya lemas. Sang ibu segera membawanya ke dokter pencernaan yang mengatakan bahwa itu akibat infeksi virus. Kondisi ini membuat berat badan Landon turun 1 kilo dalam 2 minggu dan pertumbuhannya terhambat.

Setelah beberapa kali bolak balik rumah sakit dan bertemu berbagai dokter spesialis, akhirnya Landon mendapatkan diagnosis pasti saat ia berusia 19 bulan oleh dokter dari Children’s Hospital of Philadelphia (CHOP).

Landon didiagnosis menderita food protein induced entercolitis syndrome (FPIES), yaitu kondisi yang sangat parah sehingga ia hanya bisa mengonsumsi 5 makanan saja yaitu stroberi yang manis, blueberry, anggur, kismis dan susu formula elemental.

“Dokter berhasil mendiagnosisnya dalam waktu 10 menit. Saya tidak bisa menjelaskan perasaan saya saat itu, mengerikan sekaligus melegakan,” ujar sang ibu, Fallon Schultz (28 tahun), seperti dikutip dariABCNews, Jumat (8/7/2011).

Schultz menuturkan bahwa ia akan melakukan segala sesuatu yang terbaik untuk buah hatinya agar ia tetap bisa tumbuh dengan baik seperti halnya anak-anak yang lain. Kondisi ini membuat Landon tidak bisa mengonsumsi 27 jenis buah-buahan, sayuran, susu dan produk kedelai, biji-bijian serta daging.

Jika ia mengonsumsi selain 5 jenis makanan tersebut, maka beberapa hari kemudian tubuhnya akan melawan protein di dalam makanan yang bisa merusak usus dan menyebabkan diare serta muntah berbahaya yang bisa meningkatkan risiko syok.

“FPIES tidak seperti alergi makanan yang reaksinya akan muncul di detik berikutnya. Tapi reaksi ini akan tertunda sehingga membuatnya sulit untuk didiagnosa,” ujar Dr Jonathan Spergel, kepala divisi alergi Children’s Hospital of Philadelphia.

Dr Spergel menuturkan ada kemungkinan makanan olahan, kandungan probiotik yang sedikit serta pengawet makanan memainkan peran terhadap kondisi ini. Tapi beberapa penelitian menuturkan hal ini merupakan suatu penyakit autoimun.

Para ahli tidak tahu berapa banyak anak yang menderita FPIES. Tapi kondisi yang dialami oleh Landon terbilang parah sehingga para ahli tidak ada yang bisa memprediksi prognosis penyakitnya.

“Landon mungkin tidak bisa makan segala jenis makanan, karenanya diperlukan beberapa rumus tertentu mengenai makanan yang bisa dikonsumsinya agar ia tetap mendapatkan jumlah kalori seimbang,” ujar Schultz.

Sumber:Detik
Advertisements