Kementerian Kesehatan telah berkomunikasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengenai virus Hendra menyusul laporan kasus di Queensland, Australia. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE menyatakan, sejauh ini laporan kasus akibat virus Hendra hanya ada di Australia.

Menurut Prof. Tjandra Yoga, kasus pada manusia sangat jarang, namun dari yang pernah ditemukan gejalanya sama seperti gejala penyakit pernafasan berat.

“Salah satu kasus awal adalah dokter hewan dan petugas yang menangani peternakan kuda di Australia yang kemudian kudanya sakit dan menularkan ke manusia”, jelas Prof Tjandra.

Ditambahkan, virus Hendra merupakan anggota dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus yang punya dua anggota, yaitu virus Hendra dan virus Nipah. Virus Hendra pertama kali diisolasi pada September 1994 dari spesimen yang diperoleh selama wabah penyakit pernapasan dan neurologis pada kuda dan manusia di Hendra, pinggiran Brisbane, Australia.

Penyebar virus ini secara alami adalah kelelawar dari genus Pteropus yang ditemukan di Australia. Virus Hendra menyebabkan penyakit pada kuda di Australia. Infeksi pada manusia terjadi karena paparan dari sekresi dari kuda yang terinfeksi virus Hendra, ujar Prof. Tjandra.

“Virus Hendra dapat didiagnosis melalui tes antibodi dengan ELISA (IgG dan IgM), RT-PCR) dan isolasi virus, di laboratorium. Untuk mencegahnya, hindari hewan yang diketahui terinfeksi virus Hendra dan menggunakan alat pelindung diri yang aman bila akan kontak dengan hewan yang dicurigai berpotensi terinfeksi. Ribavirin terbukti efektif melawan virus in vitro”, kata Prof Tjandra.

Menurut Prof. Tjandra Yoga, di Australia, kasus pada kuda secara sporadik terus terjadi, namun jumlah kasusnya tidak banyak. Infeksi pada manusia sangat jarang, namun pernah terjadi infeksi pada manusia dari tahun 1996 sampai 2007. Virus itu pertama kali ditemukan pada  September 1994 di sebuah properti di daerah  pinggiran Brisbane Hendra. Sejak itu, empat dari tujuh orang yang terinfeksi virus telah meninggal.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail, info@depkes.go.idkontak@depkes.go.id.