Mengapa ada pasangan yang begitu “produktif” dalam menghasilkan anak, ada pula yang begitu sulit mendapatkan kehamilan meskipun telah melakukan berbagai macam cara? Jawabannya bisa saja terkait masalah kesehatan dan kesuburan, tetapi bisa juga karena ketidaktahuan kita mengenai cara yang paling tepat untuk memungkinkan terjadinya pembuahan.

Dr Arun Ghosh, dokter spesialisasi di bidang kesehatan seksual di Spire Liverpool Hospital, paling sering ditanya mengenai pengaruh panjang penis terhadap kesuburan. Sayang, menurutnya, dua hal tersebut tidak saling mempengaruhi. Yang penting adalah sesering apa Anda melakukan hubungan seks. Semakin sering Anda bercinta, semakin baik kualitas sperma pasangan Anda.

“Jika Anda sedang berusaha hamil, Anda membutuhkan sperma sesegar mungkin, bukan yang sudah berada di dalam prostat selama tiga atau empat hari,” katanya.

Kita sendiri juga tidak mengalami masa subur setiap hari dalam siklus menstruasi kita. Studi dari National Institute of Environmental Health Sciences menunjukkan bahwa perempuan hanya bisa hamil dalam enam hari dari siklus bulanannya. Yaitu lima hari menjelang ovulasi, dan pada hari kita berovulasi itu sendiri.

Ovulasi terjadi 14 hari setelah mens hari pertama. Namun, hitungan ini hanya bisa tepat untuk perempuan yang memiliki siklus haid 28 hari secara konsisten. Orang dengan siklus yang konsisten pun tidak semuanya berovulasi pada waktu yang sama. Hanya dengan mengamati beberapa informasi seperti karakteristik cairan serviks atau perubahan suhu tubuh, Anda bisa memprediksi secara tepat kapan Anda akan berovulasi.

Setelah mendapatkan perhitungan yang pas, Anda bisa melakukan hubungan seks dengan peluang kehamilan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika Anda tidak mengetahui informasi ini, dan hanya berhubungan seks satu kali seminggu, bisa-bisa Anda melewatkan masa ovulasi tersebut. Sekali lagi, seks yang produktif diperlukan untuk mencapai pembuahan pada telur. (kompas)