Coba perhatikan terampilnya orang makan dengan sumpit di restoran masakan Cina. Dedaunan tipis, bahkan butiran nasi, bukan persoalan untuk dapat dijepit dengan mantap sebelum dimasukkan ke mulut.

Namun, siapa sangka menggunakan sumpit dapat menyebabkan artritis di tangan. Itu hasil penelitian ilmuwan AS yang melibatkan lebih dari 2.500 warga Beijing, RRC.

Secara spesifik disebutkan, osteoartritis (nyeri sendi) banyak terjadi pada bagian tangan yang sering digunakan untuk menggerakkan batang sumpit. Demikian pula bagian tangan yang secara khusus mendapat tekanan saat menggunakannya.

Dr. David Hunter dari Fakultas Kedokteran Boston University dan mitra kerjanya telah mewawancarai 2.507 warga Beijing berusia sekitar 60 tahun yang dipilih secara acak. Proses penelitian dimulai dengan mengajukan pertanyaan, apakah mereka kidal atau tidak, terutama saat menggunakan perangkat makan. Lalu diteliti cara mereka memegang sumpit, dan – yang dinilai paling penting – melakukan rontgen sinar X pada jari-jari tangan mereka. Setiap sendi diperiksa untuk mengetahui ada-tidaknya tanda-tanda osteoartritis.

Dari hasil pengamatan itu Hunter menyimpulkan, artritis lebih sering muncul pada tangan yang sering digunakan untuk menjepit batang sumpit. Khususnya pada ibu jari, serta sendi kedua dan ketiga pada jari telunjuk dan jari manis.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa sumpit dapat berperan menimbulkan osteoartritis tangan,” kata Hunter.

Pengaruh gangguannya memang tidak terlalu besar. Jadi, rasanya hasil penelitian itu tidak akan menghalangi orang-orang untuk terus makan pakai batang penjepit itu. Namun, penelitian itu membuahkan penghargaan untuk ditindaklanjuti dalam penelitian yang lebih mendalam. Hal ini disampaikan dalam sebuah pertemuan di American College of Rheumatology di Orlando, Florida, AS.

Hunter menambahkan, penelitian lain menunjukkan, menggunakan tangan secara berulang-ulang untuk mengerjakan satu hal yang sama memang berisiko menyebabkan artritis. Sayangnya, ia tidak menyebutkan, apa jenis kegiatan lain itu. Jangan-jangan, kegiatan rutin menulis menggunakan pensil atau bolpen pun berisiko sama? (intisari)