Peneliti Denmark dari Bispebjerg Hospital (BH) menyajikan sebuah studi baru, yang menunjukkan bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah moderat mengurangi risiko seseorang terkena asma.
Seperti yang dikutip dari Softpedia, Senin (26/09/2011), Hasil penelitian ini dipresentasikan pada hari Minggu pada kongres tahunan European Respiratory Society (ERS), yang diadakan di Amsterdam, Belanda. Para ahli mengatakan kepada penonton bahwa efek itu bisa dilihat jika konsumsi alkohol antara 1-6 unit seminggu.

Sebagai satuan volume, unit alkohol memiliki nilai yang berbeda di berbagai negara. Misalnya, Inggris memiliki undang-undang yang menetapkan satu unit sama dengan 10 mililiter, sedangkan Australia, satu unit sekitar 10 gram, atau 12,7 mililiter.
Dalam studi, para ilmuwan Denmark mensurvei peserta berusia 12 sampai 41 dan mereka semua adalah kembar. Sebanyak 19.349 individu dianalisis, dan mereka semua menyelesaikan kuesioner tentang konsumsi alkohol pada awal dan akhir studi mereka.
Resiko mereka untuk terkena asma dipantau selama periode rentang waktu 8 tahun. Dan peneliti menyimpulkan, kurang dari 4 persen orang yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang moderat telah mengalami asma. Namun penyakit itu merupakan insiden terendah di grup ini.
Risiko tertinggi untuk terkena asma dialami oleh orang yang tidak pernah minum alkohol, dan peminum berat, dimana mereka 1,2 kali lebih mungkin untuk terkena asma. Terutama, orang-orang yang disurvei dilaporkan mengkonsumsi bir, Seperti yang dilaporkan Science Blog.
“Sementara konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan, temuan penelitian kami menunjukkan bahwa asupan moderat 1-6 unit dapat mengurangi risiko asma,” kata penyidik BH dan anggota tim studi Sofie Lieberoth menjelaskan.
“Dengan memeriksa semua faktor yang terkait dengan perkembangan asma, kita dapat memahami lebih banyak tentang apa yang menyebabkan kondisi ini dan bagaimana mencegahnya,” kata penyidik. Beberapa faktor sering menyebabkan asma adalah polusi, asap knalpot, infeksi saluran pernapasan virus, merokok, tingkat ozon yang tinggi, stres psikologis dan banyak lainnya.