Berapa lama Anda bisa cuti melahirkan? Menurut penelitian terbaru, waktu cuti melahirkan yang hanya sebentar membuat ibu mudah depresi.
Seperti dilaporkan TIME, penelitian tersebut dilakukan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) dengan responden berbagai keluarga di seluruh Amerika. Dalam penelitian itu, para peneliti mencari tahu bagaimana kesehatan mental dan fisik ibu, hubungan ibu dengan bayi dan membandingkannya dengan waktu bekerja dalam tahapan berbeda setelah melahirkan.
Dalam penelitian tersebut terungkap, stres yang dialami oleh ibu baru adalah karena mereka mendapat cuti melahirkan yang terlalu singkat. Seorang ibu yang memiliki bayi berusia tiga bulan dan bekerja full time dilaporkan memiliki tingkat stres paling tinggi dibandingkan ibu yang bisa tetap di rumah dengan bayi barunya.
Tingkat stres serupa juga ditemukan pada ibu dengan bayi berusia enam bulan. Namun bukan waktu bekerja mereka lah yang menyebabkan si ibu stres, Waktu bekerja juga tidak ada hubungannya dengan penurunan kualitas ibu sebagai orangtua.
Menurut penelitian itu, anak bisa ikut stres jika si ibu kembali bekerja terlalu dini pasca melahirkan. Sementara dengan bekerja, tingkat stres dan depresi pada ibu justru menurun.
“Setelah 4,5 tahun menjadi orangtua, ibu justru bisa menurunkan stres mereka dengan bekerja,” begitu dilaporkan TIME.
Melalui hasil penelitiannya, para peneliti menekankan pentingnya pemerintah di berbagai negara membuat kebijakan tentang cuti melahirkan. Kebijakan tersebut sebaiknya membuat ibu baru bisa lebih lama tinggal bersama bayinya setelah melahirkan.