Sejumlah penelitian mencari solusi atas masalah yang dialami ibu bekerja. Keputusan ibu kembali bekerja pascamelahirkan menimbulkan sejumlah dampak terhadap dirinya dan pengasuhan anak. Apakah ibu perlu tetap bekerja penuh atau sebaiknya paruh waktu saja? Pertimbangannya, agar pengasuhan bayi tak terganggu dan bisa optimal.
Meski masih kontradiktif, tetapi penelitian menemukan bahwa ibu muda pascamelahirkan yang kembali bekerja memiliki dampak positif. Inilah benang merahnya, meski masih terdapat perbedaan mengenai kapan waktu tepat, dan pekerjaan yang lebih baik untuk ibu muda.
Studi para peneliti dari School of Social Work di Columbia University, New York City, menunjukkan adanya hubungan ibu kembali bekerja dengan perkembangan kemampuan kognitif anak.
Penelitian yang melibatkan 1.000 anak di tahun pertama sekolah, dari 10 area berbeda di Amerika ini, menunjukkan nilai positif dan negatif dari ibu yang kembali bekerja terhadap perawatan dan pengasuhan anak.
“Saat ibu kembali bekerja, banyak yang berubah, termasuk kualitas perawatan anak, kesehatan mental ibu, hubungan dengan keluarga, dan penghasilan rumah tangga,” kata profesor dan peneliti dari Columbia University, Jane Waldfogel.
Menurutnya, ibu yang kembali bekerja penuh pascamelahirkan memiliki penghasilan lebih untuk keluarga, kualitas perawatan anak yang lebih baik, dan kesehatan mental yang meningkat. Meskipun demikian, diakui bahwa waktu interaksi ibu dan bayi lebih singkat.
Dari responden penelitian ditemukan pula bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh ibu bekerja penuh waktu memiliki kemampuan kognitif lebih rendah. Di sisi lain, sang ibu memiliki sensitivitas lebih tinggi. Penghasilan dari pekerjaan juga meningkatkan kemampuan ekonomi untuk membayar berbagai kebutuhan perawatan dan pengasuhan anak.
Sementara itu, penelitian lain pendahulunya mengatakan, sebaiknya ibu kembali bekerja setelah bayi berusia 12 bulan. Dengan perhatian penuh dari ibu, masa emas di tiga tahun pertama buah hati akan berjalan dengan optimal.
Institute for Social and Economic Research dari Essex University juga mengadakan penelitian. Ibu yang kembali bekerja pada tiga tahun pertama pertumbuhan anak berdampak pada pertumbuhan anak yang lamban. Bahkan, studi yang digelar Unicef pada 2008 merekomendasikan, sebaiknya ibu tetap berada di rumah pascamelahirkan, hingga satu tahun.
Dikatakan juga bahwa solusi lain untuk ibu adalah bekerja paruh waktu. Anak yang dibesarkan oleh ibu pekerja paruh waktu tumbuh lebih sehat dalam segala hal.
Merespons perbedaan pandangan ini, Jane menegaskan pentingnya pola pengasuhan dan sensitivitas orangtua terhadap anak dan kebutuhannya. Dengan demikian, meskipun bekerja, ibu bisa memberikan perhatian penuh seusai jam kantor. Orangtua yang memberikan sarana perawatan dan pengasuhan anak yang tepat saat ditinggalkan bekerja, hasilnya juga bisa optimal.
“Ibu yang bekerja lebih dari 30 jam seminggu tetap bisa berbuat terbaik untuk keluarga. Begitu pulang ke rumah, tarik napas dalam-dalam, tinggalkan semua pekerjaan kantor, dan berikan perhatian penuh untuk anak-anak,” tandasnya.