ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorders) adalah sebuah gangguan hiperaktif yang sering dijumpai pada anak. Ciri-ciri anak yang mengalami ADHD antara lain sulit memusatkan perhatiannya pada sesuatu dan cenderung memusatkan perhatian pada apa yang dia suka, tidak bisa tenang dan duduk diam, sulit berkonsentrasi, mudah kehilangan sesuatu sekaligus sering bingung harus melakukan apa, bertindak sesuatu untuk menarik perhatian, sering nekat melakukan sesuatu tanpa mempedulikan efeknya (sehingga sering mengalami kecelakaan lebih banyak dibandingkan anak lain), sulit belajar, agresif dan sering mengamuk.
Jumlah anak-anak penderita ADHD semakin bertambah dari waktu ke waktu, sehingga hal tersebut menjadi salah satu alasan para peneliti di Swedia untuk melakukan sebuah penelitian yang mengaitkan antara kelahiran prematur dan hubungannya dengan anak-anak yang mengalami masalah ADHD. Penelitian tersebut dilakukan pada lebih dari satu juta anak-anak dengan rentang usia enam hingga sembilan tahun, 7.506 di antara anak-anak tersebut menderita ADHD dan masih dalam perawatan dan mendapat obat-obatan.
Bayi Prematur Memiliki Risiko Lebih Besar Mengalami ADHD
Selanjutnya, para peneliti melihat seberapa cepat mereka lahir prematur. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa anak-anak yang lahir sangat cepat (antara 23 hingga 28 minggu masa kehamilan) mayoritas mengalami ADHD. Sedangkan anak-anak yang lahir dengan waktu kelahiran normal (39 minggu masa kehamilan) lebih rendah dalam mendapatkan risiko terkena ADHD. Bayi yang lahir pada minggu 23 hingga 28 masa kehamilan dua kali lebih berisiko terkena ADHD dibandingkan bayi yang lahir dalam waktu setelah 39 minggu. 
15 dari setiap 1.000 kelahiran yang lahir pada minggu ke 23 hingga 28 masa kehamilan didapatkan menderita ADHD saat bayi tersebut sudah masuk usia anak-anak. 7 dari 1.000 bayi yang lahir pada minggu 37 hingga 38 masa kehamilan menderita ADHD saat sudah masuk pada usia anak-anak. Hanya 6 dari 1.000 kelahiran bayi pada masa kehamilan normal (antara 39 hingga 41 minggu masa kehamilan) yang didapati menderita ADHD saat memasuki usia anak-anak.
Dari hasil penelitian tersebut tentunya sudah terlihat jelas bahwa anak-anak yang lahir prematur memiliki risiko yang lebih besar menderita ADHD dibandingkan oleh anak-anak yang lahir pada waktu yang normal. Selain karena faktor normal, bayi yang dilahirkan ceesar lebih awal dari tanggal kelahiran juga memiliki risiko perkembangan ADHD saat bayi tersebut telah memasuki usia anak-anak