Apakah anda penderita sakit maag?, jangan sepelekan penyakit yang satu ini, selama ini kita sering mengira sakit maag adalah sakit biasa dan mudah untuk mengatasinya, tinggal beli obat maag di Apotik selesai. Sehingga kita akan kembali mengulangi pola makan yang seenak hati kita atau secara tidak teratur dikarenakan persepsi kita yang terlalu menyepelekan sakit maag itu sendiri. untuk itu marilah kita mengenal sakit maag lebih jauh.

Sakit maag lebih kita rasakan sebagai Sakit ulu hati, sebah, kembung, perasaan mual dan ingin muntah. Itu adalah gejala sakit maag yang kerap diderita oleh masyarakat. Banyak masyarakat yang mengira bahwa sakit maag selalu berhubungan dengan lambung. Padahal faktanya tidak selalu demikian.

Prof. Dr. H. Iswan A. Nusi, Sp.PD, KGEH membahasnya dalam seminar “Penyakit Maag.
Kenali, Obati, dan Hindari” yang digelar di lantai 1 Graha Amerta RSUD Dr. Soetomo hari Minggu (14 Mei 2011).
Maag berasal dari bahasa Yunani yang berarti lambung. Meski memiliki arti lambung, penyakit maag tidak selalu merupakan gangguan pada lambung. Gangguan pada organ lain seperti liver, pankreas, saluran empedu hingga jantung juga dapat menimbulkan gejala yang sama dengan penyakit maag.

“Kadang-kadang ada penyakit jantung tertentu (iskemik inferior, infark miokard) yang gejalanya mirip maag,” terang Prof. Iswan.

Maag (radang lambung atau tukak lambung) adalah gejala penyakit yang menyerang lambung karena terjadi luka atau peradangan pada lambung. Dalam dunia kedokteran maag dikenal dengan sindrom dispepsia.

Menurut Prof. Iswan, penyakit ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Misalnya karena pola makan dan tidur tidak teratur, stress, serta konsumsi alkohol. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan kadar asam lambung dan mempengaruhi luka atau radang yang sudah ada di lambung sehingga menimbulkan rasa sakit.

Namun, yang patut diwaspadai adalah maag yang terjadi akibat Helicobacter pylori (H. pylori). Bakteri yang ditemukan pada tahun 1984 ini tidak hanya menyebabkan iritasi pada lambung (tukak lambung) tapi juga beresiko menimbulkan kanker lambung.

H. pylori ditemukan pada 30-60 % kasus dispepsia fungsional. Dispepsia fungsional merupakan kasus dispepsia dimana tidak ditemukan kelainan saat menjalani pemeriksaan radiologi dan laboratorium. Di Indonesia, 60% dari penderita dispepsia yang berobat ke rumah sakit tergolong dispepsia fungsional.

H. pylori merupakan bakteri gram negative yang hanya mampu berkoloni pada mukosa
lambung. Bakteri H. pylori berlokasi di bagian bawah lambung dan menimbulkan gejala-gejala seperti maag (dispepsia) pada umumnya dan biasanya disertai komplikasi perdarahan pada lambung.

Oleh sebab itu Prof. Iswan menyarankan jika masyarakat mengalami maag (dispepsia) yang disertai dengan penurunan berat badan, anemia dan pucat, kesulitan menelan, muntah darah, dan Buang Air Besar (BAB) berdarah dianjurkan untuk melakukan Pemeriksaan enduskopi. Terutama jika pasien tersebut memiliki keluarga dengan riwayat kanker saluran cerna.

“Dengan pemeriksaan endoskopi, saluran pencernaannya dapat terlihat lebih seksama,” ujar pendiri Poliklinik Maag di Graha Amerta RSUD Dr. Soetomo ini.

Melalui pemeriksaan endoskopi dapat diketahui daerah mana yang mengalami iritasi, ulkus, peradangan serta dapat melihat sejauh mana pertumbuhan jaringan sel kanker.

sumber : rsudrsoetomo