Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Bristol, Inggris, Menemukan suatu hal yang unik yaitu: gen pada bayi yang mengalami obesitas/kegemukan di kemudian hari berbeda dengan kode gen yang dimiliki bayi dengan berat badan normal.

Penelitian ini dilakukan bersama-sama dengan dengan rekan-rekan dari Newcastle University, kelompok peneliti University of Bristol menganalisis contoh darah tali pusat dari 178 bayi. Data itu kemudian direferensi silang dengan studi gen yang diketahui memainkan peran dalam mengontrol berat badan.
Penyelidikan menunjukkan bahwa 9 dari 24 gen yang terlibat dalam proses ini dapat digunakan untuk memprediksi berat badan bayi dalam kelompok studi pada usia 9 tahun. Ini bisa sangat baik menjadi pola epigenetik untuk obesitas, atau untuk kelebihan berat badan.
“Kami melihat apa yang dikenal sebagai ‘pola epigenetik’, yaitu sinyal kimia yang mengubah ‘on’ atau ‘off’ pada gen tertentu. Dalam penelitian ini kami menemukan hubungan antara yang ditemukan pada saat lahir dan berat badan anak ketika mereka masih sembilan tahun, “jelas profesor Caroline Relton.
“Ini menunjukkan bahwa DNA kita dapat ditandai sebelum kelahiran dan tanda ini dapat memprediksi berat badan kemudian kami,” tambah ilmuwan, yang merupakan dosen senior di Epidemiologi epigenetik di Newcastle University.
Penemuan ini diterbitkan dalam dalam jurnal PLoS ONE, edisi 14 Maret. Ilmu Epigenetika berusaha untuk menjelaskan bagaimana lingkungan dan genom bekerja sama untuk mempengaruhi kesehatan kita dalam jangka panjang.
Salah satu hal yang paling penting yang ilmuwan mampu tentukan sejauh ini adalah bahwa faktor lingkungan seperti jumlah latihan, berapa banyak kita merokok, berapa banyak hormon yang diproduksi tubuh kita, atau bagaimana cara kita diet, dapat mempengaruhi pola ekspresi genetik bahkan sebelum kelahiran.
“Meskipun kami telah menemukan hubungan antara gen dan ukuran tubuh pada anak, kami perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah yang mempengaruhi ekspresi gen dengan mengubah pola epigenetik memang memicu obesitas,” kata Relton.