Jika Anda sering menonton serial sinetron dari Korea, pasti Anda senang melihat wajah cantik dan tampan para artis pemerannya. Pernahkah Anda perhatikan bentuk hidung yang harmonis dengan wajah para artis tersebut? Pernahkah Anda bertanya apakah mereka itu cantik atau tampan sejak lahir atau mereka telah merubah bentuk wajah termasuk hidungnya?

Di Asia termasuk Indonesia, ternyata sudah banyak wanita maupun pria yang mengoreksi bentuk hidungnya. Kebanyakan mereka merubah bentuk hidungnya dengan harapan hidungnya dapat menjadi mancung dan tampak lebih harmonis sehingga menjadi lebih cantik maupun tampan untuk para pria.

Banyak sekali iklan di media masa maupun internet yang menyesatkan masyarakat umum, menjanjikan memancungkan hidung dengan cara tanpa operasi. Akibatnya tidak sedikit orang awam yang mendatangi salon kecantikan untuk memancungkan hidungnya dengan cara menyuntikkan silikon cair atau cairan kimia berbahaya lainnya, yang sebenarnya bahan tersebut dilarang penggunaannya dalam dunia medis dikarenakan banyak menimbulkan komplikasi yang akan terjadi akibat penggunaan zat-zat tersebut, bisa berupa alergi, luka yang tidah bisa sembuh, benjolan yang disebut granuloma dan yang pasti rusaknya bentuk wajah.

Menurut Dr. Tomie H Soekamto, SpBP, dokter mitra spesialis bedah plastik RS Telogorejo Semarang, informasi yang benar tentang bagaimana cara merubah bentuk hidung menjadi lebih harmonis sangat diperlukan. “ Bentuk hidung dapat dibuat menjadi lebih mancung dan harmonis dengan cara operasi yang disebut dengan rhinoplasty yang sering dilakukan oleh dokter spesialis bedah plastik.

Dengan prosedur- teknik yang benar dan dilakukan oleh dokter yang kompeten diharapkan hasil operasi yang baik, memuaskan dan terhindar dari komplikasi yang mungkin terjadi,”terangnya.

Dr. Tomie H Soekamto, SpBP juga menjelaskan tujuan dari operasi rhinoplasty untuk orang asia adalah untuk membentuk struktur hidung yang alami dan harmonis dengan bentuk wajah. “Prosedur operasi dapat dilakukan dengan pembiusan lokal ataupun dengan pembiusan umum. Pemilihan teknik pembiusan disesuaikan pada keadaan pasien dan teknik operasi yang akan dilakukan. Rhinoplasty yang sederhana biasanya memerlukan pembiusan lokal sedangkan yang kompleks memerlukan pembiusan umum. Tidak menutup kemungkinan pembiusan umum pada prosedur sederhana pada pasien yang takut dioperasi dalam keadaan sadar,”katanya.

Irisan luka operasi pada rhinoplasty ada dua macam, yaitu di dalam hidung (intra nasal approach) dan di luar hidung (external/open approach). Pemilihan irisan ini disesuaikan dengan teknik operasi yang dilakukan. Untuk irisan di dalam biasanya untuk prosedur rhinoplasty sederhana, sedangkan irisan di luar hidung untuk prosedur operasi yang lebih kompleks.

“ Pada beberapa kasus, dokter membentuk sedikit bagian dari tulang rawan hidung untuk memancungkan hidung. Teknik ini biasa dilakukan untuk memperbaiki ujung hidung yang bundar dan besar. Hidung orang asia pada umumnya mempunyai struktur tulang rawan yang kecil dan tipis, sehingga untuk membentuk hidung yang lebih mancung biasanya dengan cara menambahkan graft atau implant,”terangnya.

Ada beberapa material yang dapat digunakan untuk membentuk hidung baru yaitu graft, bisa berasal dari tubuh sendiri (autograft) ataupun material buatan atau sintetis (implant). Graft yang berasal dari tubuh sendiri dapat berupa tulang rawan yang diambil dari hidung itu sendiri atau dari bagian tubuh lain seperti tulang rawan telinga atau tulang rawan iga.

Sebagian besar operasi rhinoplasty berjalan sukses tanpa terjadi komplikasi. Adapun komplikasi yang mungkin terjadi adalah komplikasi dini ataupun lambat. “ Komplikasi dini antara lain bisa terjadi perdarahan baik saat operasi maupun sesudah operasi, infeksi, dan bengkak. Sedangkan komplikasi lambat bisa berupa jaringan parut bekas operasi, implant yang menonjol keluar, bentuk hidung yang tidak simetris maupun bentuk hidung yang tidak sesuai dengan keinginan awal pasien,”tambahnya.

Dokter yang kompeten dan teknik operasi yang baik dapat menekan dan menghindari terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan. Dengan demikian bentuk hidung yang lebih baik dan harmonis dengan bentuk wajah bisa dicapai.

Sumber : RS. Telogorejo