Dalam hubungan orang tua dan anak, terkadang ada beberapa perlakukan anak yang menyakitkan bagi orangtua. Seperti ketika kejenuhan anak remaja yang berujung pada meneriaki kata-kata kebencian pada orang tuanya dalam beberapa kesempatan. Sebagai orang tua, perkataan seperti ini tentunya begitu memilukan hati.

Saat-saat remaja, adalah saat yang paling emosional dan menantang bagi orangtua dan keluarga. Mau tidak mau, sebagai keluarga harus selalu dekat dan siap siaga untuk mereka. Hal ini normal, karena sebagai orang tua, Anda tentunya menerapkan kedisiplinan yang mereka tak sukai.

Benyak remaja beranggapan mereka sudah dewasa, dan cukup matang untuk bertindak dan bertanggungjawab, sekalipun sebenarnya tidak. Dan hal ini yang memicunya untuk sering menunjukan rasa bencinya kepada orang tua.

Tapi apakah ia benar-benar benci?
Ya. Seperti dilansir dari SheKnows, mereka memang membenci Anda karena telah menerapkan aturan-aturan yang membuatnya merasa terikat. Tetapi bagaimana pun juga sebagai orang tua akan sedih jika terus menerus diteriaki kebencian oleh anaknya. Tapi yang harus dipahami, bahwa hubungan Anda dengannya adalah hubungan orang tua dan anak, ada ikatan yang kuat antara Anda dengannya. Maka, kuatkanlah pondasi diri Anda. Karena meskipun dia “membenci” Anda, tetapi dia sangat membutuhkan diri Anda.

1. Tetaplah tegar dan bersabar
Hanya karena si remaja melemparkan sesuatu yang menyakitkan pada Anda, bukan berarti Anda jadi langsung terpukul. Anda sudah jauh lebih dewasa daripadanya, maka jangan gubris kata-katanya. Konsisten dan tegaslah padanya.

2. Tetap mencintainya
Ada sebuah kata yang tepat dalam kasus ini. “Kita tidak perlu harus seperti mereka, yang kita perlukan hanya untuk terus mencintai dan merawat mereka”. Mereka mungkin marah pada Anda, dan mungkin Anda pun turut jengkel pada mereka, tapi ingatlah bahwa usaha Anda untuk menjaga dan menerapkan disiplin itu berasal dari cinta Anda untuknya.

3. Tetap jalin berkomunikasi dengannya
Sekalipun dalam kondisi yang sulitpun, kita sebagai orang tua perlu bicara kepada mereka. Kesempatan ini menunjukan bentuk cinta Anda padanya. Selalu lah jaga komunikas dalam hal setiap situasi, baik dalam hal kecil maupun penting.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANAK MEMBENCI ORANG TUA
A. Masalah Internal
Biasanya masalah ini berhubungan dengan aspek psikologis dari si anak yang bisa dkatakan mengalami gangguan pertumbuhan. Hal ini bisa disebabkan oleh factor genetis atau kurangnya asupan gizi sang ibu selama mengandung. Hal lain juga yang bisa menjadi penyebab masalah ini adalah adanya peristiwa traumatis selama anak dalam kandungan sang ibu.

Sekalipun anak belum mengerti apa-apa selama dalam kandungan tapi berdasarkan teori perkembangan, memori bawah sadar manusia telah belerja dengan baik semenjak dalam kandungan ibu. Contoh peristiwa traumatis ini adalah rencana aborsi oleh orang tua. Dalam beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh pada ahli, seorang anak yang pernah direncanakan untuk digugurkan oleh orang tuanya biasanya memiliki kecenderungan untuk memberontak atau penakut.

B. Masalah Eksternal
Masalah ekternal adalah masalah yang disebabkan oleh lingkungan dimana anak tumbuh dan berkembang. Termasuk diantaranya adalah masalah pola asuh orang tua yang kurang tepat. Lingkungan sangat mempengaruhi, anak yang terbiasa dengan kehidupan yang keras, dia terbiasa menyakiti orang, karena dia terbiasa disakiti. Akhirnya gaya hidup yang keras itu menjadi bagian dari kehidupannya sendiri. Jadi bagi dia melakukan tindak kekerasan bukanlah hal yang luar biasa itu adalah hal yang lazim.

Orang tua juga sering tanpa disadari melakukan hal-hal yang melukai hati anak-anak dan waktu hal-hal itu bertumpuk dalam hati si anak akhirnya membuahkan kebencian dalam diri si anak kepada orang tuanya.

Beberapa tindakan orang tua yang dapat mengakibatkan hati anak sakit, yaitu:
1. Anak akan merasa pahit kalau dia ditolak, jadi anak lahir ke dunia dengan suatu permintaan agar orang tua menerimanya, mereka membutuhkan penjagaan, dan uluran tangan orang tuanya. Beberapa bentuk penolakan adalah :
a. Membandingkan anak yang satu dengan anak lain di dalam keluarga atau dengan anak diluar keluarga/tetangga.
b. Penghinaan, kadangkala orangtua lupa bahwa anak kita punya perasaan dan dalam kemarahan kita keluarlah kata-kata yang menghina dia. hal tersebut sangat mempunyai muatan penolakan yang besar.
c. Memaki dengan kata kata kasar atau setiap ada masalah anak selalu dipukul, baik dilakukan saat dirumah maupun didepan orang banyak. Mengacuhkan anak/tak memperdulikan masalah, pertanyaan maupun kesulitan yang dihadapi anak.
d. Menuntut anak harus belajar atau mengikuti kegiatan ini itu, harus menuruti keinginan orangtua, harus mengikuti apapun yang disuruh dan diminta orangtua. Memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan kondisi mental anak, keinginan, masukan ataupun pemasalahan yang dihadapi anak.

2. Orang tua tanpa merencanakan atau tidak membuat si anak merasa dia adalah bukan bagian dari keluarga itu sendiri.

3. Tatkala disiplin diberikan, kekerasan diberikan tanpa adanya cinta kasih yang cukup. Disiplin dan cinta kasih adalah dua unsur yang sangat dipentingkan dalam pertumbuhan anak. Cinta kasih yang diberikan tanpa disiplin membuat si anak menjadi anak yang luar biasa egoisnya, kekanak-kanakan, tidak dewasa, menganggap semua orang harus tunduk kepadanya dan harus memenuhi keinginannya.

MENGATASI ANAK YANG MEMBENCI ORANG TUA
A. Tugas Orang Tua
Langkah-langkah yang perlu kita lakukan sebagai orangtua untuk mengurangi sifat anak yang memberontak orang tuanya adalah sbb:
1. Sewaktu kita menghukum anak, kita mesti mengecek apakah kita telah memberikan peringatan kepada si anak. Prinsipnya kita tidak mendisiplin anak dengan pukulan, kalau kita belum memberikan dia peringatan kecuali dalam kasus tertentu.

2. Tidak diperkenankan memukul anak semau orangtua, memukul anak apalagi dibagian tubuh yang membahayakan kesehatan maupun nyawa anak, seperti di muka, kepala, bagian pelipis, telinga dan pantat, apalagi dengan menggunakan alat seperti rotan, kayu, atau dengan sabuk dan benda lainnya. Hanya akan menambah kebencian, kecacatan pada anak maupun kematian.

3. Setiap kali kita mau mendisiplin anak, kita harus tanyakan diri kita apakah si anak ini mengerti kenapa si anak diberi hukuman. Hal ini menuntut orangtua untuk memberikan waktu setelah menghukum anak, anak tetap harus bisa berbincang-bincang/mengeluarkan unek unek atau masalah yang dihadapi pada orangtua. begitupun orangtua dapat menjelaskan masalah dalam menerapkan disiplin/hukuman pada anak.

4. Harus selalu mengecek sudahkah anak itu tahu bahwa dia dicintai oleh kita, cukupkah pengekspresian kasih kita kepadanya. Sebab jangan sampai si anak merasakan bahwa kita hanyalah datang untuk memukulnya, membentaknya, menghukumnya atau mendisiplinkannya tanpa anak itu menyadari bahwa orangtua amat mengasihinya.

B. Tugas Seorang Konselor (jika diperlukan)
Selain mendapatkan bimbingan dari orang tua, juga sangat diperlukan peran seorang konselor dalam membimbing seorang anak yang memiliki masalah kebencian dengan oaran tuanya. Ini disebabkan karena biasanya anak cenderung tidak suka menerima masukan dari orang yang dia benci. Untuk itu seorang konselor perlu mengambil langkah-langkah yang tepat dalam masalah ini. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan oleh seorang konselor antara lain:
1. Menganalisa dengan melibatkan orang tua tentang apa kira-kira penyebab kebencian anak pada orang tuanya.
2. Mengadakan pendekatan sesuai dengan karakter kepribadian anak tersebut. Serta menggali penyebab kebencian menurut versi si anak.
3. Menasihati si anak baik dengan norma agama maupun etika yang berlaku di lingkungan sosial dengan penekanan tentang menghormati orang tua.
4. Memberi masukan kepada oran tua tentang pola asuh yang benar terhadap anak dengan masalah tersebut.

Anak dilahirkan ke dunia bukan untuk menjadi robot yang penurut. Anak dilahirkan ke dunia adalah bagian dari anugerah yang diberikan Tuhan, memiliki pancaindera, memiliki keinginan dan hati. Bijaklah dan fleksibel dalam mendidik anak, berikan contoh yang baik, ajak dan luangkan waktu bagi anak agar dapat berkomunikasi, berdiskusi dan bertukar fikiran dengan penuh kasih sayang. Ajari anak untuk mengenal dunianya dengan memberikan penjelasan dan pengertian yang memadai. Sebagai orangtua tentunya tidak hanya ilmu agama yg harus diterapkan atau digunakan mendisiplinkan anak, namun pelajari juga dari sudut psikologi atau mental anak, buka wawasan untuk mengetahui informasi, ilmu pengetahuan dan berita yang berkembang di lingkungan sosial. Kenali juga teman2 dari anak kita, ketahui pula kegiatan dan tempat kegiatan yang diikuti anak.

Menjadi orang tua tak pernah begitu mudah, dan sepertinya para remaja benar-benar memanfaatkan pepatah ini. Tapi kabar baiknya adalah, sekeras apapun mereka “merepotkan” Anda, sekuat itu pula Anda menghadapinya. Buktinya, orang tua kita bisa melaluinya!