Berbeda dengan obat kimia yang khusus untuk mengobati satu jenis penyakit tertentu, tanaman obat memiliki khasiat yang beragam. Misalnya, temu lawak dapat digunakan untuk meningkatkan nafsu makan, meningkatkan fungsi kerja hati, mengurangi peradangan, menghambat perkembangan virus, antisembelit, penambah nafsu makan, tonikum, dan mengurangi asam lambung. Sementara itu, obat kimia, seperti parasetamol hanya digunakan sebagai obat penurun panas.

Pengobatan tradisional dengan bahan dari tanaman umumnya dikuasai secara turun-temurun. Pemakaian dan cara pengolahannya boleh dibilang amat sederhana. Namun, jenis tanaman obat yang digunakan haruslah tepat. Setiap tanaman memiliki efek farmakologi yang sangat beragam. Pemakaian tanaman obat yang salah dapat berakibat fatal.

Selain ketidaktepatan jenis tanaman yang digunakan, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian pemakai tanaman herbal kurang mengindahkan hal-hal yang bersifat higienis. Padahal, alat, bahan, dan pelaku sebaiknya harus bersih. Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak dikehendaki karena pemakaian obat herbal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya bahan tanaman, pengolahan ramuan, cara pemakaian, dan tindakan medis lainnya.

A. Bahan Tanaman Herbal
Pemilihan simplisia bahan baku obat herbal sebaiknya memperhatikan aroma, rasa, kandungan kimia, maupun sifat fisiologisnya. Ketepatan pemilihan bahan baku obat herbal tidak hanya pada jenis tanaman, tetapi juga bagian tanaman yang digunakan. Hal ini disebabkan setiap bagian tanaman memiliki khasiat khusus yang berbeda.

Bagian tanaman yang biasanya digunakan sebagai obat, di antaranya akar (akar ginseng dan akar pasak bumi), rimpang (kunyit, jahe, kencur, dan lengkuas), batang (brotowali), daun (daun dewa, katuk, dan sirih), bunga (melati), buah (belimbing wuluh dan jeruk nipis), dan kulit buah (mahkota dewa). Namun, ada pula pemanfaatan obat dari seluruh bagian tanaman (meniran dan pegagan).

Bahan tanaman yang hendak digunakan untuk pengobatan sebaiknya dalam keadaan segar. Untuk menjaga kesegaran bahan dengan cara menyimpannya di tempat yang bersih dan jauh dari panas atau sinar matahari langsung. Akan lebih baik jika bahan disiapkan atau dipetik pada hari itu juga sehingga tidak perlu disimpan. Jika telah terpilih, bahan bahan yang berkualitas baik tersebut dicuci terlebih dahulu dengan air hingga bersih.

Ada kalanya tanaman obat dibuat dari bahan kering. Misalnya, rimpang (temu lawak dan kunyit) yang disajikan dalam bentuk potongan tipis yang dikeringkan. Jika harus menggunakan yang kering, keadaan bahan harus dalam kondisi baik. Bahan yang terkena kotoran, lembap, berjamur, dimakan serangga, atau tergeletak di tempat yang kotor sebaiknya tidak dipakai.

B. Peralatan yang Digunakan
Tidak dapat dipungkiri bahwa kelemahan utarna pada pengobatan tradisional ialah kurangnya perhatian pada peralatan yang digunakan. Hal ini tidak boleh dianggap sepele. Alat yang digunakan dapat menularkan penyakit, membawa kotoran lain, atau bahkan menghilangkan khasiat obat jika tidak bersih atau alatnya salah.

Sendok, gelas, panci perebusan, atau peralatan yang dipakai sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu. Jika perlu, alat tersebut direbus atau direndam dalam air panas. Setelah digunakan, alat harus dibersihkan lagi. Jangan beranggapan alat tidak perlu dibersihkan benar karena hendak dipakai lagi untuk membuat obat yang sama. Memang alat akan terkena kotoran lagi, tetapi kotoran lama yang tertimbun justru dapat mendatangkan masalah baru. Misalnya, menimbulkan residu pada Mat atau mendatangkan kuman penyakit.

Saringan atau perasan harus dibersihkan dengan benar, sebaiknya direbus dengan air mendidih. Jika menggunakan saringan dari kain, gunakan kain bersih, tidak perlu kain baru, yang penting tidak habis digunakan untuk keperluan lain. Seandainya kain digunakan untuk keperluan lain maka kain perasan harus dibersihkan dengan baik sebelum dan sesudah pemakaian.

Panci perebusan hendaknya terbuat dari bahan tanah, keramik, kaca, atau stainless steel. Sedapat mungkin jangan merebus bahan dengan panci dari alumunium, besi, atau kuningan. Peralatan dari timah hitam atau timbal juga dilarang keras dipergunakan untuk membuat ramuan. Tujuannya untuk menghindari timbulnya endapan pembentukan zat racun, konsentrasi larutan obat menurun, atau efek samping karena reaksi bahan kimia panci dengan zat yang dikeluarkan tanaman. Selain kebersihan alat, pelaku yang meracik obat sebaiknya juga menjaga kebersihan tangan dan ruangan.

C. Pengolahan Ramuan Herbal
Beberapa cara mengolah tanaman obat, di antaranya memipis, merebus, dan menyeduh.
1. Memipis
Biasanya bahan yang digunakan berupa bagian tanaman atau tanaman yang masih segar seperti daun, biji, bunga, dan rimpang.

Bahan tersebut dihaluskan dengan ditambahkan sedikit air. Bahan yang sudah halus diperas hingga 1/4 cangkir. Jika kurang dari 1/4 cangkir, air matang ditambahkan pada ampas, lalu diperas lagi.

2. Merebus
Tanaman obat direbus agar zat-zat yang berkhasiat di dalam tanaman larut ke dalam larutan air. Api yang digunakan untuk merebus sebaiknya yang volumenya mudah diatur. Pada awal perebusan digunakan api besar hingga mendidih. Jika telah mendidih, bahan di dalam air dibiarkan selama 5 menit. Selanjutnya, api kompor dikecilkan untuk mencegah air rebusan meluap sampai air rebusan tersisa sesuai kebutuhan. Bahan yang berukuran besar dipotong terlebih dahulu.

Air yang digunakan dalam perebusan adalah air yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan bening. Air yang kekuningan, berbau, dan mengandung kotoran sebaiknya tidak digunakan.

3. Menyeduh
Bahan baku yang digunakan dapat berupa bahan yang masih segar atau bahan yang sudah dikeringkan. Sebelum diramu, bahan bahan dipotong kecil-kecil. Setelah siap, bahan diseduh dengan air panas. Setelah didiamkan selama 5 menit, bahan hasil seduhan disaring.

D. Cara Pemakaian Tanaman Herbal
Untuk setiap jenis penyakit, cara penanganan obat akan berbeda. Misalnya, untuk penyakit kulit, herbal yang digunakan dengan cara dioles atau diramu untuk mandi. Untuk penyakit pernapasan (asma), obat diberikan dengan cara uapnya diisap, selain obat yang diminum juga. Sementara itu, untuk penyakit hepatitis, demam, dan asam urat, obat herbal diminum.

Cara mengonsumsi ramuan yang berasal dari tanaman obat berbeda-beda. Umumnya ramuan dikonsumsi satu jam sebelum makan. Tujuannya agar proses penyerapan zat-zat yang berkhasiat optimal dan tidak bercampur dengan makanan lainnya. Bagi yang belum terbiasa mengonsumsi herbal, sebaiknya dosisnya sedikit demi sedikit. Setelah terbiasa, dosis yang dianjurkan diminum sekaligus.

Obat herbal biasanya diminum 2-3 kali sehari dengan dosis yang telah ditentukan. Dosis yang diminum untuk anak umur 10-15 tahun biasanya 1/2 dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa. Sementara itu, dosis untuk anak-anak umur 5-9 tahun adalah 1/3 dosis orang dewasa.

E. Jangka Waktu Pemakaian Tanaman Herbal
Ramuan tradisional umumnya dibuat dengan cara direbus, diperas, atau dimakan mentah. Ramuan yang direbus boleh disimpan selama sehari atau 24 jam. Setelah jangka waktu tersebut, sebaiknya ramuan dibuang dan dibuat lagi yang baru jika masih memerlukannya. Apabila dibuat dari perasan tanpa direbus, ramuan hanya boleh disimpan selama 12 jam. Lebih dari waktu itu jangan digunakan lagi karena dapat tercampur kuman atau kotoran dari udara atau lingkungan sekitarnya.

Umumnya resep pengobatan yang disajikan berdasarkan pertimbangan jangka waktu di atas. Namun, tidak ada salah-nya selalu mempertimbangkan jangka waktu pemakaian ini jika ternyata ramuan yang dibuat berlebih. Jangan menyimpan ramuan lebih dari waktu yang disarankan hanya karena sayang membuangnya. Ingatlah bahwa kesehatan lebih penting dari sekedar bahan tersebut.

F. Tindakan Medis Lainnya
Meskipun dianjurkan pemakaian obat tradisional sebagai tindakan pengobatan penyakit, tidak berarti pengobatan medis atau kedokteran modern diabaikan. Penderita tetap boleh dan harus di bawa ke rumah sakit, puskesmas, atau dokter yang terdekat, terlebih lagi jika penyakitnya parah.