Sperma yang baik dan Berkualitas sangat diperlukan untuk menghasilkan Pembuahan yang baik..
Berikut adalah faktor penting berdasarkan kriteria WHO mengenai kualitas sperma itu baik atau tidak:
1. Konsentrasi atau jumlah dari sperma. Minimal jumlah sperma yang baik adalah 20 juta per cc.
2. Motilitas atau pergerakan sperma. Mortalitas sperma yang baik adalah minimal 50 persen pergerakan sperma, baik itu pergerakan cepat maupun pergerakan biasa.
3. Morfologi atau bentuk dari sperma. Sperma yang baik adalah sperma yang bentuknya minimal normal 30 persen.
Jumlah spermatozoa/ml
Jumlah spermatozoa/ml yang menjadi pegangan untuk dikatakan cukup, kurang ataupun berlebih adalah 20 juta/ml. Istilah yang dipakai adalah sbb :
-0 Juta/ml disebut Azoospermia
-0 – 5 juta/ml disebut Ekstrimoligozoospermia
-< 20 juta disebut oligozoospermia > 250 Juta/ml disebut Polizoospermia
-Jumlah spermatozoa 20 – 250 juta/ml sudah dianggap masuk dalam batas-batas yang normal.
PROSENTASE Pergerakan SPERMATOZOA/ MOTIL
Kualitas pergerakan spermatozoa disebut baik bila 50% atau lebih spermatozoa menunjukkan pergerakan yang sebagian besar adalah gerak yang cukup baik atau sangat baik (grade II/III). Gradasi menurut W.H.O. untuk pergerakan spermatozoa adalah sebagai berikut :
0 = spermatozoa tidak menunjukkan pergerakan
1 = spermatozoa bergerak ke depan dengan lambat
2 = spermatozoa bergerak ke depan dengan cepat
3 = spermatozoa bergerak ke depan sangat cepat
Bila spermatozoa yang motil kurang dari 50%, maka spermatozoa disebut astenik. Istilah yang digunakan adalah Astenozoospermia.
Bentuk/Morfologi
Spermatozoa disebut mempunyai kualitas bentuk yang cukup baik bila ≥ 50% spermatozoa mempunyai morfologi normal. Pemeriksaan morfologi men-cakup bagian kepala, leher dan ekor dari spermatozoa.
Bila > 50% spermatozoa mempunyai morfologi abnormal, maka keadaan ini di sebut teratozoospermia.
Dengan pegangan ketiga parameter pokok tersebut di atas, maka didapat kesan atau “diagnosis” spermatologis dalam istilah-istilah sbb :
Oligozoospermia, Extrimoligozoospermia, Astenozoospermia, Ekstrimoligoastenozoospermia Oligoastenozoospermia, Oligoastenoteratozoospermia, Astenoteratozoospermia, Poliastenozoospermia, Azoospermia 
Parameter sperma yang lainnya juga mempunyai nilai informatif untuk penilaian fungsi kelenjar Seks asesori pria, sehingga perlu dicantumkan dalam spermiogram.
Parameter-parameter tersebut adalah :
1. Volume : Umumnya 2 – 4 ml.
2. Warna : Lazimnya putih keabuan agak keruh, atau sedikit kekuningan.
3. Bau : Khas spesifik sperma, atau “langu”
4. pH : 7.2 – 7.7
5. Koagulum : Normal terdapat sesaat setelah sperma diejakulasi dan tidak tampak lagi setelah 20 menit, oleh karena proses likwefaksi telah selesai. Bila proses likuefaksi belum selesai/sempurna dalam waktu 20 menit, kita sebut waktu likuefaksi memanjang.
6. Viskositas : – Normal : waktu tetesan 1 – 2 detik
7. Aqlutinasi : – Normal : tidak terdapat aqlutinasi sejati.
8. Lekosit : – sebagai batasan, sperma normal tidak mengandung lekosit lebih dari satu juta/ml. Sperma yang mengandung lebih dari 1 juta lekosit per ml disebut sebagai sperma yang mengalami pencemaran.
Ada beberapa faktor mengapa sperma pria tidak bagus kualitasnya, antara lain:
1. Lingkungan hidup pria yang tidak baik menyebabkan kualitas sperma seorang pria menjadi tidak baik. Hal ini menarik kalau dilihat dari kualitas hidup pria yang berada di kota besar seperti Jakarta. Dapat kita ambil contoh seperti merokok, polusi, kurang olah raga dan gaya konsumsi pangan yang tidak sehat
2. Perkembangan testis yang tidak baik, sangat berpengaruh pada jumlah sperma yang dihasilkan akan semakin sedikit.
3. Penggunaan celana dalam yang terlalu ketat dapat menyebabkan jumlah sperma yang dihasilkan testis menjadi berkurang, bahkan penggunaan celana dalam yang ketat juga dapat mengganggu pergerakan sperma, akibatnya kualitas spermanya menjadi tidak baik.
4. Panas yang berlebihan di daerah kemaluan
5. Terjadinya varikokel atau pembesaran pembuluh darah di daerah testis, yang meningkatkan temperatur skrotum dan akibatnya jumlah sperma yang dihasilkan berkurang.
6. Faktor Genetik, dimana dari awal testis pria tersebut memang tidak bisa memproduksi sperma dengan baik.
Selain beberapa faktor di atas, gaya hidup juga sangat berpengaruh terhadap kualitas sperma seorang pria. Adapun beberapa factor yang menyebabkan buruknya kualitas sperma seseorang adalah kebiasan merokok, minum minuman beralkohol, gaya hidup bebas yang menyebabkan meningkatnya potensi infeksi. Kebiasaan memakan makanan yang banyak mengandung kolesterol tinggi dan lemak, makan tidak teratur, dan sering tidak teratur tidur. Karena itu, untuk memperbaiki kualitas sperma, kaum pria disarankan untuk menjalani gaya hidup sehat.
ref1