A. Berapa kenaikan berat badan ideal saat hamil?
Tergantung dari berat badan Anda sebelum dinyatakan hamil dan indeks massa tubuh Anda. Indeks massa tubuh (IMT) adalah hubungan antara tinggi dan berat badan Anda. Prinsip dasar yang perlu Anda ingat: berat badan Anda naik perlahan dan bertahap, bukan mendadak dan drastis.

Institute of Medicine (IOM) merekomendasikan angka kenaikan berat badan saat hamil sebagai berikut:
1. IMT Anda sebelum hamil termasuk kategori rendah (di bawah 18,5)
Total kenaikan berat badan: 14-20 kg.
Kenaikan trimester pertama: sekitar 2,3 kg, lalu naik 0,5 kg per minggu hingga akhir kehamilan.

2. IMT kategori normal (18,5 s/d 24,9)
Total kenaikan berat badan: 12,5-17,5 kg.
Kenaikan trimester pertama: sekitar 1,6 kg dan naik 0,4 kg per minggu hingga akhir kehamilan.

3. IMT kategori tinggi (25 s/d 29,9)
Total kenaikan berat badan: 7,5-12,5 kg.
Kenaikan trimester pertama: sekitar 0,9 kg dan naik 0,3 kg per minggu hingga akhir kehamilan.

4. IMT kategori obesitas (di atas 30)
Total kenaikan berat badan: 5,5-10 kg.

Jika Anda hamil bayi kembar, kenaikan berat badan dianjurkan 18,5-27 kg jika IMT sebelum hamil Anda normal. Jika IMT Anda tinggi, kenaikan berat badan yang dianjurkan 15,5-25 kg dan jika Anda tergolong obesitas sebaiknya kenaikan berat badan saat hamil bayi kembar antara 12,5-21 kg.

B. Apakah Kebanyakan Wanita Bisa Mencapai Kenaikan Berat Badan yang Dianjurkan?
Menurut laporan IOM 2009, hampir setengah jumlah wanita hamil mengalami kenaikan berat badan berlebih atau kurang dari angka rekomendasi. Kebanyakan wanita dengan IMT rendah mencapai kenaikan berat badan yang dianjurkan tapi sebagian wanita dengan IMT normal naik berat badannya melebihi rekomendasi. Mayoritas wanita dengan kelebihan berat badan atau obesitas mengalami kenaikan berat badan yang terlalu besar saat hamil. Tentu laporan tersebut bukan sebuah berita baik.

C. Bagaimana Caranya Menjaga Berat Badan Saat Hamil Agar Tetap Berada di Angka yang Dianjurkan?
“Padukan makanan yang mengandung unsur 4 sehat 5 sempurna dengan olah raga teratur, cukup istirahat, dan memeriksakan diri ke dokter dengan teratur. Pemeriksaan itu sangat penting, terutama untuk deteksi penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan gizi kurang–misalnya penyakit kronis seperti TBC–atau gizi berlebih–misalnya diabetes. Lakukan perhitungan IMT sebelum hamil dan selama periksa kehamilan,” kata Dr. Judi Januadi Endjun, SpOG, dari RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Saat hamil, kenaikan berat badan Anda tidak hanya “lari” ke bayi, melainkan ke tubuh Anda sendiri. Distribusi kenaikan berat badan ibu hamil adalah sebagai berikut:
Berat bayi sekitar 3.000 gram
Berat rahim sekitar 900 gram
Berat plasenta sekitar 600 gram
Berat payudara sekitar 400 gram
Peningkatan volume darah ibu sekitar 1.200 gram
Cairan tubuh dan cairan ketuban, sekitar 2600 gram
Jaringan lemak tambahan sekitar 2.500 gram

D. Apa yang Mungkin Terjadi Saya Kelebihan Berat Badan Saat Hamil?
Riset menunjukkan bahwa wanita yang mengalami kenaikan berat badan terlalu besar saat hamil akan cenderung memerlukan operasi caesar. Kelebihan berat badan itu juga bertahan hingga setelah melahirkan dan wanita tersebut akan mengalami kenaikan berat badan yang lebih besar saat hamil anak kedua dan seterusnya. “Selain itu, wanita yang mengalami kelebihan berat badan semasa hamil lebih berisiko terkena komplikasi seperti diabetes gestasional dan penyakit darah tinggi pada kehamilan (preeclampsia),” kata Dr. Judi.

Ditambah lagi, wanita dengan kenaikan berat badan berlebih akan berpotensi melahirkan bayi yang terlalu besar yang dapat memicu komplikasi saat lahir bagi ibu dan bayi. Dan anak yang lahir dari ibu dengan kelebihan berat badan akan berisiko menjadi anak yang juga kelebihan berat badan atau mengalami obesitas. Sementara wanita yang sudah mengalami kelebihan berat badan sebelum hamil cenderung punya masalah menyusui. Para pakar meyakini beberapa alasan di balik fakta tersebut, misalnya sulit memosisikan bayi saat menyusui. Pertambahan berat badan terlalu besar selama hamil akan membuat masalah tersebut semakin parah.

E. Apa yang Mungkin Terjadi Saya Kekurangan Berat Badan Saat Hamil?
Wanita yang memulai kehamilan dengan berat badan rendah atau tidak menunjukkan kenaikan sesuai anjuran berisiko mengalami kelahiran prematur atau melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (kurang dari 2,7 kg). Kelahiran prematur bisa memicu gangguan kesehatan bahkan menyebabkan kematian jika bayi lahir terlalu dini. Bayi juga berisiko membawa penyakit yang sudah diprogram sejak dalam kandungan, misalnya hipertensi, stroke, diabetes mellitus dan penyakit jantung koroner.

Wanita hamil yang kekurangan zat gizi kunci berpotensi melahirkan bayi dengan cacat bawaan yang serius. Sebagai contoh, jika pola makan Anda tidak mencukupi kebutuhan minimal 400 mcg asam folat, risiko bayi lahir dengan neural tube defect (cacat tabung saraf) meningkat. Sebaiknya wanita yang kekurangan berat badan mengonsumsi makanan yang kaya vitamin dan zat gizi lain yang juga mengandung lemak sehat. “Untuk menambah kalori, cara sederhananya adalah menambah frekuensi makan menjadi 4-6 kali sehari atau memilih menu yang padat kalori hingga pertambahan berat badan yang dianjurkan dapat tercapai,” kata DR. Dr. Saptawati Bardosono, MSc, spesialis gizi medik dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

F. Tetap Aktif Semasa Hamil
Olahraga saat hamil tidak hanya bermanfaat untuk menjaga berat badan ibu melainkan juga berperan mengatur berat badan janin. Wanita yang berolahraga secara rutin pada kehamilan pertama berpeluang besar menekan risiko melahirkan bayi dengan berat badan berlebih, menurut studi di Norwegia yang dipublikasikan dalam jurnal Obstetrics & Gynecology edisi Oktober 2009. Wanita yang melahirkan bayi besar—lebih dari 4 kg tanpa memerhitungkan panjang badan—berisiko terkena komplikasi seperti pendarahan hebat setelah melahirkan, kata salah satu penulis dalam studi tersebut, Dr. Katrine Mari Owe dari Norwegian School of Sport Sciences.

Bayi-bayi yang lahir dengan berat badan berlebih juga berisiko tumbuh menjadi anak dengan obesitas. Peneliti menganalisis data dari Norwegian Mother and Child Cohort Study dan Medical Birth Registry of Norway yang melibatkan 36.869 wanita hamil. Peneliti membuat kesimpulan bahwa wanita yang hamil anak pertama yang berolahraga minumal tiga kali dalam seminggu pada usia kehamilan 17 minggu dapat menurunkan 25 persen kemungkinan bayi lahir dengan kelebihan berat badan. Sementara wanita yang berolahraga dengan frekuensi yang sama pada usia kehamilan 30 minggu bisa menurunkan kemungkinan melahirkan bayi dengan berat lahir berlebih sebesar 22 persen. (parentsindonesia.com)