Amandel atau bahasa medisnya tonsil atau tonsila palatina adalah merupakan kelenjar limfoid/getah bening yang terdapat dalam rongga mulut/faring. Organ ini termasuk dalam sistem imun/pertahanan tubuh. Tonsil bersama dengan adenoid/tonsila faringeal dan tonsil lingual sering disebut cincin Waldeyer. Karena terhubung satu sama lain, maka apabila salah satu tonsil mengalami infeksi atau peradangan umumnya akan diikuti peradangan tonsil yang lain. Peradangan/infeksi pada amandel disebut tonsilitis.

Berdasarkan lamanya keluhan tonsilitis dibagi tiga yaitu tonsilitis akut bila keluhan kurang dari 3 minggu, disebut tonsilitis berulang/kronik bila terdapat 7 kali infeksi dalam 1 tahun atau 5 kali episode gejala dalam 2 tahun berturut-turut atau 3 kali infeksi dalam 1 tahun selama 3 tahun berturut-turut.

Gejala umum dari tonsilitis adalah demam, nyeri tenggorok, bau mulut, sulit dan nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening leher. Selain gejala umum diatas, pada tonsilitis manifestasi sumbatan jalan nafas juga sering dikeluhkan seperti tidur mengorok, bicara sengau/bindeng, henti nafas saat tidur (Obstructive sleep apnea),  nafas lewat mulut yang semuanya berdampak pada penurunan kualitas hidup seperti lemah, letih, lesu tak bersemangat, rasa mengantuk, gampang lelah, sulit konsentrasi sampai penurunan daya ingat.

Menurut rekomendasi AAO-HNS (American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery) indikasi klinik pengangkatan amandel/tonsil dengan atau tanpa adenoid adalah :

  • Pasien dengan serangan tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun yang tidak mendapat manfaat dengan pengobatan medikamentosa yang adekuat.
  • Pembesaran tonsil yang mengakibatkan maloklusi gigi-geligi atau adanya efek samping gangguan pertumbuhan mulut/wajah (orofacial growth) yang terdokumentasi oleh doker gigi.
  • Pembesaran tonsil yang mengakibatkan sumbatan jalan nafas atas seperti ngorok, bicara sengau, gangguan/kesulitan menelan, henti nafas saat tidur (sleep apnea syndrom), atau komplikasi penyakit kardiopulmonal (endokarditis bakterialis dsb).
  • Abses peritonsil yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa.
  • Bau mulut atau nafas menetap akibat tonsilitis kronik yang tidak responsive dengan pengobatan.
  • Tonsilitis kronik yang diasosiasikan dengan infeksi kuman streptokokus yang tidak responsive dengan pengobatan antibiotik.
  • Pembengkakan tonsil satu sisi yang dicurigai keganasan.
  • Otitis media akut atau otitis media supurative kronik berulang yang diakibatkan oleh tonsilitis.

Dengan demikian, apabila keluhan amandel anda seperti diatas dan memenuhi indikasi klinis untuk di angkat/operasi maka yang terbaik adalah demikian.

Sumber yang lain menyebutkan HTA 2004 mengelompokkan indikasi Tonsilektomi (Operasi pengangkatan amandel) menjadi dua yaitu absolut (sangat dianjurkan) dan relatif (boleh dilakukan) :

Indikasi Absolut

  • Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran nafas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner
  • Abseb peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase
  • Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
  • Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi

Indiaksi Relatif

  • Terjadi episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat
  • Halitosis akibat tonsillitis kronis yang tidak membaik dengan pemberian terapimedis
  • Tonsilitis kronis berulang pada karier streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik Beta-laktamase resisten

Dari sumber yang sama disebutkan pula beberapa kondisi yang menyebabkan operasi Tonsilektomi tidak diajurkan yaitu :

Kontraindikasi

  • Gangguan perdarahan
  • Resiko anestesi yang besar atau penyakit berat
  • Anemia
  • Infeksi akut yang berat

Mitos
Banyak mitos tentang amandel yang beredar di masyarakat, antara lain:
1. Mitos, operasi amandel hanya boleh dilakukan pada anak  yang usianya telah mencapai 6-7 tahun.
Faktanya, menurut para ahli tidak ada batasan umur dalam keputusan operasi amandel.
2. Mitor, penyakit amandel hanyalah penyakit ringan dan tidak membahayakan.
Faktanya, menurut para ahli walaupun kebanyakan infeksi amandel tidak mengancam jiwa, tetapi bila kuman penyebabnya streptococcus beta hemoliticus, dapat menimbulkan komplikasi penyakit jantung dan ginjal yg berbahaya. Henti napas saat tidur akibat pembesaran amandel dapat menimbulkan problem kesehatan serius.
3. Mitos, amandel selalu berfungsi sebagai penyaring kuman,sehingga tidak boleh dioperasi.
Faktanya, menurut para ahli fungsi penyaring kuman pada amandel yg telah menjadi sarang kuman sangat minimal bahkan tidak ada lagi. Peran penyaring kuman masih dapat digantikan oleh organ  penyaring kuman lainnya di sekitar tenggorok. Kelenjar getah bening diseluruh tubuh berfungsi untuk menyaring kuman.
4. Mitos, operasi amandel adalah operasi kecil yang tidak ada risiko sama sekali
Faktanya, menurut para ahli, semua operasi memiliki resiko operasi baik sebelum, saat dan sesudah operasi.  operasi amandel adalah operasi didaerah jalan nafas yang tentu saja ada resiko  yang dapat ditimbulkan seperti perdarahan setelah operasi, penutupan jalan nafas dan sebagainya.  Namun demikian, dengan berkembangnya teknik dan peralatan operasi amandel, serta persiapan yang optimal sebelum operasi resiko-resiko ini dapat diminimalisir.
Sesuai dengan berbagai tingkatan kondisi penyakit amandel, penanganan tonsilitis (radang tonsil) sangatlah beragam, mulai dari terapi obat hingga operasi pengangkatan tonsil atau amandel sebagai solusi akhir.
So jangan anggap remeh pembesaran amandel, mari periksakan sejak dini.
Salam Sehat
sumber : dokteraidil.blogspot.com