COPD

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) atau dalam dunia medis internasional lebih dikenal dengan Chronic Obstructif Pulmonary Disease (COPD) adalah penyakit obstruksi saluran nafas kronis dan progresif yang dikarakterisir oleh adanya keterbatasan aliran udara yang bersifat irreversibel, yang disebabkan oleh bronkitis kronis, emphysema atau keduanya.

Bronkitis kronik keadaan pengeluaran mukus secara berlebihan ke batang bronchial secara kronik atau berulang dengan disertai batuk, yang terjadi hampir setiap hari selama min 3 bulan/tahun selama 2 tahun berturut turut.

Sedangkan Emphysema adalah kelainan paru-paru yang ditandai dengan pembesaran jalan nafas yang sifatnya permanen mulai dari terminal bronchial sampai bagian distal (alveoli : saluran, kantong udara dan dinding alveoli).

Banyak faktor resiko yang bisa menyebabkan sesorang menderita COPD. Paling berperan adalah faktor lingkungan yaitu merokok (baik pasif apalagi aktif), jenis pekerjaan (misalnya pegawai pabrik atau supir angkot), paparan polusi udara, dan tentu saja riwayat infeksi paru yang pernah dialami. Namun faktor host (penderita) juga menentukan resiko dan juga prognosis dari COPD yaitu usia, jenis kelamin, penyakit paru yang sudah ada.
Bronkitis
Bagaimana asap rokok dan polutan bisa menyebabkan bronkitis kronis pada manusia? Prosesnya memakan waktu bertahun-tahun, apabila misalnya sesorang merokok atau seorang istri yang suaminya perokok menghirup asap rokok setiap hari maka akan terjadi hambatan mucociliary clearance, yaitu berkurangnya kemampuan suatu organ pada saluran pernafasan manusia untuk menyapu kotoran dan kuman keluar, sehingga mudah terjadi iritasi bronchiole (saluran paru) yang berulang, proses ini mengakibatkan hiperplasia, hipertrofi dan proliferasi kelenjar mukus seperti yang bisa anda lihat pada gambar. Kondisi ini menciptakan hipersekresi mukus yang berlebihan sehingga terjadilah obstruksi jalan napas yang mulai menimbulkan gejala bronkitis kronis.
Survei tahun 2001 di Amerika Serikat kira-kira 12.1 juta pasien menderita COPD, 9 juta menderita bronkitis kronis, dan sisanya menderita emphysema, atau kombinasi keduanya. Artinya 3/4 penderita COPD akan mengalami bronkitis kronis dan 1/4 sisanya mengalami emphysema bahkan gabungan keduanya. Di Indonesia diperkirakan terdapat 4,8 juta penderita dengan prevalensi 5,6 persen. Kejadian meningkat dengan makin banyaknya jumlah perokok (90% penderita COPD adalah smoker atau ex-smoker). 
Emphysema
Kebiasaan merokok dan paparan polusi udara yang berlebihan bisa mengakibatkan sesorang terkena emphysema terutama bila mengalai kelainan genetik taitu defisiensi α1-antitripsin yang normalnya bertugas menghambat enzim proteolitik yang dihasilkan selama proses peradangan jaringan paru yang melibatkan leukosit, makrofag, dan neutrofil atau mediator inflamasi yang lain, apabila kondisi destruksi jaringan paru ini terus berlangsung akan terjadi penurunan elastisitas airways dan compliance paru seperti pada gambar. Keadaan paru seperti inilah yang berujung pada penurunan pertukaran gas pernapasan akibat udara yang terjebak sehingga disebut Emphysema.

Gejala yang muncul apabila seseorang sudah mengalami COPD biasanya diawali dengan batuk yang lama, peningkatan volume sputum, sesak nafas yang progresif, dada terasa sesak (chest tightness), kemudian berkembang menjadi sputum yang purulen disertai meningkatnya kebutuhan bronkodilator. Penderita juga akan merasa lemah, lesu, dan mudah lelah. Dari pemeriksaan fisik akan ditemukan demam dan mengi (wheezing) serta rhonki.

Respirometri

Temuan pemeriksaan fisik ini harus ditunjang dengan pemeriksaan yang lebih mendalam menggunakan Spirometry (Pulmonary function test), Chest x-ray, Gas darah arteri, dan tes laboratorium.

Respirometri merupakan gold standar dalam menegakkan diagnosis COPD, dengan menentukan FEV1 (Force Expiration Volume 1 detik) dan PVC (Peak Volume Capacity) kita sudah dapat menentukan derajat keparahan seorang penderita COPD.

Rontgent COPD
Rontgen thorax (dada) dari seorang penderita COPD akan menunjukkan kesan rongga thorax yamg membesar, hal ini dapat kita perhatikan pada jarak antar rusuk yang membesar. Kedua corak paru lebih hitam, namun kita harus berhati-hati pada penggunaan sinar X yang terlalu kuat juga akan menunjukkan hasil yang serupa, yang membedakan adalah gambaran tukang belakang  seharusnya tidak terlihat pada Rontgent AP dengan kekuatan yang normal, sehingga apabila kesan paru menghitam tapi ada gambaran tulang belakang di belakang jantung maka bisa jadi terjadi kesalahan pengaturan kekuatan sinar X pada pengambilan foto rontgent.
Ketiga corak pembuluh darah paru akan sangat menonjol karena adanya tahanan pada jaringan paru terutama bila telah terjadi hipertensi pulmo, keadaan ini bisa berujung pada kegagalan jantung kanan atau kita  biasa menyebutnya dengan KP (Cor Pulmonal)
Keempat pada diapragma akan terkesan mendatar pada Foto AP dan pada foto lateral akan memberikan kesan jantung kurus dan tegak karena rendahnya level diafragma ini.
Kelima masih pada tampak lateral ruangan di belakang sternum akan membesar, kondisi ini akan semakin jelas pada pasien yang sudah mengalami barrel chest.

CT Scan COPD
CT scan pada penderita COPD sebenarnya jarang dilakukan, namun pada keadaan tertentu sangat membantu menegakkan diagnosis Emphysema karena akan menunjukkan gammbaran bulla paru dengan lebih jelas. Pada gambar datap kita lihat telah tercipta ruangan-ruangan irreversible tidak elastis yang menyebabkan udara pernapasan terperangkap.
Prognosis pada pasien yang sudah terlanjur didiagnosis dengan COPD tergantung pada dua indikator yaitu umur dan keparahan kondisi paru pasien, jika ada hipoksia dan cor pulmonale maka prognosis lebih jelek lagi. Gejala dyspnea, obstruksi berat saluran nafas, FEV1 < 0.75 L (20%) akan meningkatkan angka kematian meningkat, 50% pasien berisiko meninggal dalam waktu 5 tahun.
Stop Smoking!
Kondisi COPD ringan sebenarnya bisa diperbaiki dengan menghentikan kebiasaan merokok, merehabilitasi paru-paru secara komprehensif dengan olahraga dan latihan pernafasan serta perbaikan nutrisi. Tidak ada obat yang dapat menunda memburuknya fungsi paru jika pasien tetap merokok.
Terapi farmakologi diperlukan bila perubahan gaya hidup tidak banyak memberikan perubahan pada kondisi paru pasien COPD, terutama pasien dengan derajat keparahan yang berat. Pilihan terapi yang dapat diberikan dari yang paling direkomendasikan adalah sebagai berikut :
Antikolinergik inhalasi
first line therapy, dosis harus cukup tinggi : 2 puff 4 – 6x/day; jika sulit, gunakan nebulizer 0.5 mg setiap 4-6 jam prn, exp: ipratropium or oxytropium bromide
Simpatomimetik
second line therapy : terbutalin, salbutamol
Kombinasi antikolinergik dan simpatomimetik
untuk meningkatkan efektifitas
Metil ksantin
banyak ADR (Adverse Drug Reaction), dipakai jika yang lain tidak mempan : Aminofilin, Teofilin
Mukolitik
membantu pengenceran dahak, namun tidak memperbaiki aliran udara, masih kontroversi, apakah bermanfaat secara klinis atau tidak
Kortikosteroid
benefit is very limited, laporan tentang efektivitasnya masih bervariasi, kecuali jika pasien juga memiliki riwayat asma
Oksigen
untuk pasien hipoksemia, cor pulmonale. Digunakan jika baseline PaO2 turun sampai < 55 mmHg
Antibiotik
digunakan bila ada tanda infeksi, bukan untuk maintenance therapy
Vaksinasi
direkomendasikan untuk high-risk patients: vaksin pneumococcus (tiap 5-10 th) dan vaksin influenza (tiap tahun)
α1-proteinase inhibitor
untuk pasien yang defisiensi α1-antitripsin, digunakan per minggu, masih mahal, contoh : Prolastin

COPD adalah penyakit yang sebenarnya secara potensial dapat dicegah secara sederhana : Stop Smoking!

Sekali COPD terjadi maka penderita akan memerlukan terapi yang kompleks yang efikasinya masih diperdebatkan para ahli. Penyakit ini bersifat progresif dan ireversibel bahkan berbiaya besar baik baik personal maupun masyarakat
Salam Sehat !
dr Aidil Adlha