Pada sebagian masyarakat kita, penyakit Tuberculosis yang selama ini lebih dikenal sebagai penyakit TBC ini merupakan penyakit flek pada paru-paru dan selalu dihubungkan dengan organ paru-paru. Jika disebut seseorang menderita TBC, langsung terpikir di kepala kita kalau yang terkena adalah paru-parunya.
Walaupun pada kenyataannya penyakit ini ternyata dapat menyerang seluruh organ tubuh manusia bukan hanya paru-paru saja.

Terkait dengan hal itu, dikenal istilah TBC ekstra paru. Beberapa penyakit TBC ekstra paru yang dapat ditemukan antara lain:

  • TBC kelenjar, 
  • TBC usus, 
  • TBC kulit, 
  • Meningitis TB, 
  • TBC ginjal, 
  • TBC hati. 
Artinya, penyakit TBC ini bisa menyerang organ tubuh lain selain paru-paru.

Saat ini kita akan membahas mengenai penyakit TBC kelenjar. TBC kelenjar terutama ditemukan di sekitar leher, yaitu berupa pembesaran kelenjar getah bening. Jika sampai pecah dan menembus kulit disebut sklofuloderma. Dan mengingat angka kejadian TBC yang masih tinggi di masyarakat, maka pasien dengan pembesaran kelenjar getah bening sering harus  diduga TBC kelenjar sebagai penyebabnya.

Jika dokter menduga ada TBC kelenjar, maka pemeriksaan ke arah TBC paru harus dilakukan seperti foto thorax dan pemeriksaan Montoux. Pemeriksaan lab seperti LED juga perlu dilakukan. Dan jika dari pemeriksaan paru tidak ditemukan kemungkinan TBC, maka pemeriksaan histopatologi dari jaringan kelenjar getah bening yang diambil secara biopsi dapat memastikan penyakit TBC kelenjar jika ditemukan gambaran histologi sesuai penyakit TBC.

Adanya gejala umum selain adanya pembesaran kelenjar getah bening juga mesti dievaluasi. Secara umum gejala awal penyakit ini tidak spesifik, yaitu:

  • adanya demam yang tidak terlalu tinggi  (biasanya kurang dari 38 derajat Celcius),
  • keringat pada malam hari, 
  • rasa tidak enak badan, dan 
  • berat badan turun. 
Empat gejala utama ini kadang tidak diperhatikan pada awalnya oleh pasien yang mengalami penyakit ini. Pasien biasanya hanya menganggap keluhan-keluhan ini hanya kelelahan biasa saja dan  umumnya mereka mencoba untuk mengatasi sendiri dengan menggunakan obat-obat yang dibeli di warung atau dengan mengonsumsi suplemen-suplemen baik yang berbentuk cair maupun kapsul. Biasanya keadaan membaik sesaat dan pasien merasa tetap letih dan badan cepat terasa lelah dan tidak merasa enak badan.

Bagaimana mengobatinya? Penyakit ini dapat disembuhkan dan pengobatannya membutuhkan waktu yang  panjang. Pasien yang sudah dipastikan menderita sakit TBC minimal harus minum obat selama 6 bulan.

Pada pasien TB ekstra paru seperti TBC kelenjar, pengobatan bisa lebih lama. Pada 2 bulan pertama pada umumnya pasien yang menderita TBC harus minum obat minimal sebanyak 4 macam obat, antara lain yang sering digunakan sebagai pengobatan pertama yaitu rifampisin, isoniasid (INH), pirazinamid dan ethambutol.

Namun, obat TBC yang berbagai macam ini kadang kala menimbulkan efek samping pada pasien yang mengkonsumsi obat tersebut. Kepatuhan dan keinginan untuk sembuh adalah syarat yang harus dimiliki oleh seseorang yang menderita TBC. Oleh karena itu bagi penderita TBC ada 2 hal yang selalu diperhatikan, yaitu kesembuhan diri sendiri dan tidak menularkan kepada orang lain.

Selain pengobatan dengan berbagai obat, pasien yang mengalami menderita TBC juga harus terus menerus memperhatikan makanannya, misalnya dengan selalu mengkonsumsi makanan yang bergizi.